Putus Cinta Bukan Akhir: Aktif Berkegiatan Jadi Pilihan Mahasiswa
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Patah hati hampir
selalu identik dengan kesedihan, kehilangan semangat, hingga kesulitan fokus menjalani
aktivitas sehari-hari. Namun, belakangan ini muncul fenomena menarik di
kalangan mahasiswa. Setelah putus cinta, alih-alih terpuruk dalam kesedihan,
banyak mahasiswa memilih untuk mengisi waktu luang mereka dengan aktivitas yang
membangun diri. Bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, mengikuti kegiatan
kepanitiaan dan seminar, program volunteer, hingga rutin berolahraga di gym
merupakan beberapa pilihan mahasiswa setelah melalui fase After Break Up.
Kondisi ini sebenarnya merupakan bentuk coping atau mekanisme penanggulangan
stres untuk mengatasi rasa sakit hati dan kekecewaan secara positif.
Salah satu penyebab utama dari fenomena tersebut adalah
adanya ruang kosong yang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka. Saat berada dalam
hubungan, banyak waktu dan energi mahasiswa terfokus pada pasangan, mulai dari
komunikasi, pertemuan rutin, hingga upaya menjaga hubungan tetap harmonis.
Setelah hubungan berakhir, ruang tersebut menjadi hampa, dan jika dibiarkan
kosong terlalu lama, dapat memperburuk rasa sedih dan kehilangan. Untuk
menghindari jatuh dalam kondisi emosional yang tidak sehat, sebagian mahasiswa
memilih untuk segera mengalihkan energi tersebut ke kegiatan yang lebih positif
dan produktif. Menyibukkan diri menjadi cara untuk menjaga pikiran tetap
terarah, mengurangi overthinking, serta menghindari perasaan kesepian yang
muncul setelah kehilangan seseorang yang sebelumnya menjadi bagian penting
dalam hidup.
Selain itu, berfokus pada kegiatan positif juga membantu
mahasiswa menemukan kembali harga diri dan kendali atas hidup mereka. Teman
sesama panitia atau komunitas kampus, juga turut memberikan dukungan emosional
yang membuat mereka merasa tidak sendirian. Bahkan, dalam banyak kasus, patah
hati justru membuka kesempatan untuk mengeksplorasi potensi diri yang selama
ini tidak sempat ditekuni karena sibuk dengan hubungan. Banyak mahasiswa yang
akhirnya menemukan passion baru, membangun kepercayaan diri, dan melihat masa
depan dengan perspektif yang lebih cerah.
Pada akhirnya, transformasi ini menunjukkan bahwa patah hati
tidak selalu berujung pada keterpurukan. Sebaliknya, banyak mahasiswa yang
menjadikan pengalaman tersebut sebagai titik balik untuk memperkuat mental,
memperluas wawasan, dan membangun versi diri yang lebih kuat. Patah hati yang
awalnya dirasa menyakitkan justru bisa menjadi motivasi untuk berubah,
bertumbuh, dan mencapai hal-hal yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan. Fenomena
ini menjadi bukti bahwa setiap kehilangan bisa mengantar seseorang menuju
keberhasilan baru, jika diarahkan dengan cara yang benar.
Penulis : Syifa Kifayatus Sa’diyah
Sumber Gambar : wikiHow