Rehat Sejenak: Mengapa Ngopi Jadi Waktu ‘Kabur’ Favorit Mahasiswa?
Di tengah bertumpuknya tugas kuliah, deadline yang
datang tanpa kompromi, dan jadwal yang terus padat dari hari ke hari, mahasiswa
sering mencari cara untuk sejenak “kabur” dari tekanan. Bagi banyak orang,
salah satu bentuk pelarian itu sederhana sekali: ngopi. Cukup keluar sebentar
dari kamar kos, mampir ke coffee shop, atau sekadar beli kopi kalengan di
minimarket, tiba-tiba kepala terasa lebih ringan dan semangat seperti terisi
ulang. Bahkan bagi sebagian mahasiswa, ngopi bukan hanya soal minumannya tetapi
sebuah ritual untuk menata kembali energi mental.
Aku sendiri begitu. Ketika sedang suntuk nugas,
pikiran penuh, atau mudah terdistraksi, langkah pertama yang terpikir adalah:
ngopi dulu. Rasanya setelah minum kopi, tubuh jadi lebih “nyala”, ide mengalir,
dan tugas yang sebelumnya bikin mumet tiba-tiba terasa lebih mudah dikerjakan.
Kadang aku pergi ke coffee shop seperti Kopi Kenangan untuk menciptakan suasana
baru, kadang cukup beli kopi kalengan. Yang penting ada sensasi rehat singkat
yang menenangkan. Menariknya, kebiasaan ini ternyata dialami banyak mahasiswa
lain dan ada alasan ilmiah di baliknya.
Kopi dan “Pelarian” Mahasiswa: Antara Ritual dan
Kebutuhan
Bagi mahasiswa, ngopi bukan hanya soal rasa pahit,
susu, atau aromanya yang khas. Ia adalah bagian dari ritualitas akademik yang
memberi ruang untuk berhenti sejenak. Coffee shop terasa seperti tempat aman
untuk bernafas dari hiruk pikuk tugas, sementara kopi menjadi simbol “ayo mulai
lagi”.
Secara sosial, ngopi juga menjadi momen untuk
terhubung dengan teman. Berbagi keluhan, cerita, atau sekadar duduk bersama
sambil memegang gelas kopi bisa membuat beban terasa lebih ringan. Tidak heran,
banyak tugas justru lebih cepat selesai ketika dikerjakan bersama di coffee
shop dibanding di kamar kos.
Namun yang membuat kopi menjadi “kabur favorit”
mahasiswa bukan hanya suasananya. Ada alasan biologis yang sudah dibuktikan
penelitian.
Mengapa Kopi Bisa Mengusir Stres dan Menambah Fokus?
- Kafein meningkatkan
konsentrasi dan fokus
- Kopi membantu
kewaspadaan dan energi otak
- Kopi meningkatkan memori
jangka pendek
- Mekanisme biologis: kopi
memblokir adenosin (hormon kantuk)
Namun ada penelitian yang menyebut bahwa kopi tidak
selalu berkaitan langsung dengan tingkat stres, tetapi lebih pada dampaknya
terhadap pola tidur. Ini berarti pada beberapa mahasiswa, kopi bisa membantu
fokus tetapi mengganggu tidur jika berlebihan.
Perspektif Pengalaman Mahasiswa Selain manfaat kafein,
ada alasan lain mengapa ngopi jadi kebiasaan favorit mahasiswa: akses yang
mudah dan aspek sosial yang kuat. Coffee shop seperti Kopi Kenangan, Janji
Jiwa, atau kedai kopi kecil di dekat kampus menjadi tempat ideal untuk berhenti
sejenak, bertemu teman, atau sekadar mengalihkan stres dari tumpukan tugas.
Suasana yang nyaman, aroma kopi, dan aktivitas orang lain yang juga sibuk
mengerjakan tugas menciptakan “vibes produktif” yang membantu mahasiswa merasa
lebih siap untuk kembali fokus. Bagi banyak mahasiswa, momen ngopi ini bukan sekadar
minumannya tetapi seperti ritual pengisian ulang mental. Duduk di tempat baru,
ngobrol ringan dengan teman, atau hanya menikmati kopi sambil melihat suasana
sekitar bisa membantu otak melepaskan ketegangan. Interaksi sosial tersebut
berperan sebagai bentuk coping yang sehat, membuat beban pikir terasa lebih
ringan dan menumbuhkan motivasi baru.
Adapun Risiko Ngopi Berlebihan pada Mahasiswa
Meskipun kopi punya banyak manfaat, konsumsi berlebih
tetap berisiko:
- Gangguan tidur
Kafein yang diminum sore atau malam
dapat menurunkan kualitas tidur.
- Menambah kecemasan
Bagi sebagian orang, kafein
meningkatkan detak jantung dan rasa gelisah.
- Ketergantungan ringan
Sering ngopi bisa membuat tubuh
“ketagihan” kafein untuk merasa fokus.
- Memicu Naiknya Asam
Lambung (GERD)
Konsumsi kopi, terutama kopi hitam
yang pekat atau diminum saat perut kosong dapat memicu naiknya asam lambung.
Kafein bisa membuat otot katup di bawah kerongkongan (LES) jadi lebih rileks.
Akibatnya, asam lambung lebih mudah naik dan menyebabkan: perih atau panas di
perut, dada terasa terbakar (heartburn), kembung sera mual.
Untuk mahasiswa yang punya maag atau GERD, lebih baik
memilih kopi low acidity, minum setelah makan, atau memilih kopi susu yang
ringan.
Tips Bijak Ngopi untuk Mahasiswa
● Minum 1–2 gelas per hari
● Hindari kopi 6 jam sebelum
tidur
● Jangan minum kopi saat perut
kosong
● Pilih kopi yang tidak terlalu
manis
● Gunakan ngopi sebagai break,
bukan satu-satunya cara mengatasi stress
● Tetap perhatikan pola tidur
dan minum air putih
Pada akhirnya, secangkir kopi adalah pengingat
sederhana bahwa tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan
kembali melanjutkan hidup satu teguk demi satu teguk.
Penulis: Qonita Adzkiya’