Rindu Ketinggian: Mengapa Banyak Anak Muda Jatuh Cinta pada Dunia Hiking?
Dunia pendakian selalu memiliki cara yang unik untuk
memanggil siapa saja yang pernah mencoba menapakkan kaki di jalur gunung. Ada
sesuatu yang berbeda dari perjalanan menuju puncak: aroma tanah basah, desir
angin pegunungan, suara dedaunan yang saling bersentuhan, hingga kabut tipis
yang menemani tiap langkah. Semua itu menciptakan rasa rindu yang sulit
dijelaskan. Saya sendiri termasuk orang yang sangat menyukai aktivitas mendaki,
karena setiap perjalanan di gunung selalu menghadirkan pengalaman yang bukan
hanya melelahkan, tetapi juga menenangkan dan menyembuhkan.
Bagi banyak anak muda, mendaki bukan sekadar hobi musiman,
melainkan bagian dari gaya hidup dan identitas diri. Kehidupan modern yang
penuh kebisingan, tekanan akademik, tuntutan pekerjaan, serta kebutuhan untuk
terus berada di dunia digital membuat mereka mencari ruang untuk bernapas.
Gunung menawarkan apa yang tidak bisa diberikan oleh kota: ketenangan,
kebebasan, dan kesempatan untuk benar-benar merasakan hidup. Tidak mengherankan
bila dalam beberapa survei komunitas pecinta alam, tercatat bahwa sekitar 75%
anak muda Indonesia menunjukkan minat yang sangat tinggi terhadap aktivitas
outdoor, termasuk mendaki gunung, terutama sebagai bentuk pelarian sehat dari
stres dan kejenuhan hidup.
Bagi saya, mendaki adalah cara terbaik untuk keluar dari
rutinitas. Saat mendaki, tidak ada notifikasi yang muncul, tidak ada pesan yang
menuntut untuk segera dibalas, dan tidak ada tekanan yang menumpuk. Yang ada
hanyalah diri sendiri, jalur yang menanti untuk ditaklukkan, dan alam yang
memberikan pelukan hangat. Setiap langkah adalah proses menata ulang diri. Rasa
lelah di kaki terasa sebanding dengan lega di hati.
Rasa pencapaian yang muncul ketika berdiri di puncak adalah
perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan tentang sekadar ingin terlihat hebat,
tetapi tentang rasa bangga karena berhasil melewati batas yang sebelumnya
terasa mustahil. Banyak anak muda jatuh cinta pada pendakian karena gunung
mengajarkan bahwa pencapaian selalu butuh proses, kesabaran, dan ketekunan.
Pemandangan luas dari puncak hanyalah bonus yang terasa sangat berharga.
Gunung juga mengajarkan makna kehidupan. Ia adalah guru yang
tidak disadari kehadirannya, namun pelajarannya begitu membekas. Tanjakan
mengajarkan ketekunan, turunan mengajarkan kehati-hatian, kabut mengajarkan
kesabaran, dan tempat istirahat mengajarkan bahwa jeda adalah bagian penting
dari perjalanan. Termasuk saya sendiri, yang sering menyadari bahwa hidup pun
memiliki pola yang sama seperti jalur pendakian.
Selain itu, mendaki memberi ruang untuk mencintai diri
sendiri. Dalam setiap langkah, kita belajar memahami batasan, ketakutan,
kekuatan, dan kemampuan untuk bertahan. Melihat sunrise di puncak gunung sambil
merasakan hembusan angin yang dingin membuat kita sadar bahwa hidup memiliki
banyak keindahan yang sering terlewatkan saat berada di bawah.
Dunia pendakian juga dipenuhi komunitas yang kuat dan saling
mendukung. Saling berbagi air, makanan, atau sekadar saling menyemangati di
jalur yang berat menciptakan ikatan yang sulit hilang. Banyak anak muda merasa
menemukan “rumah kedua” di antara para pendaki. Saya pun merasakannya—bahwa
orang-orang yang ditemui di gunung seringkali menjadi teman yang paling memahami
rasa lelah, takut, kagum, dan bahagia yang bercampur di perjalanan.
Tidak dapat dipungkiri, keindahan alam adalah alasan
terbesar mengapa banyak orang selalu ingin kembali ke gunung. Langit yang lebih
luas, awan yang terasa lebih dekat, pemandangan hijau yang tak berujung, dan
kabut yang bergerak pelan seperti tarian alam menjadi daya tarik yang tidak
pernah mengecewakan. Setiap gunung punya cerita dan pesona sendiri. Itulah yang
membuat seorang pendaki tak pernah benar-benar selesai “pulang,” karena ada
bagian dari dirinya yang selalu tertinggal di ketinggian.
Pada akhirnya, rindu ketinggian bukan sekadar keinginan
untuk menjejak puncak, tetapi tentang bagaimana gunung membuat kita merasa
hidup, bebas, dan berarti. Tidak heran jika banyak anak muda jatuh cinta pada
dunia hiking. Ada pelajaran, ketenangan, dan kebahagiaan yang mereka temukan di
sana sesuatu yang sulit mereka dapatkan di tempat lain. Bagi saya pribadi,
mendaki adalah perjalanan batin. Setiap pendakian memberi rasa rindu baru rindu
pada alam, rindu pada kesunyian gunung, dan rindu pada versi terbaik dari diri
sendiri yang selalu muncul di ketinggian.
Penulis : Yemma Nardila