“Ritual Aneh Mahasiswa Sebelum Deadline”: Fenomena Unik yang Hanya Dipahami Anak Kuliah
pgsd.fip.unesa.ac.id,
Surabaya - Setiap
mahasiswa punya satu musuh bersama: deadline. Entah tugas makalah, laporan
praktikum, atau presentasi kelompok, semuanya memiliki kekuatan misterius yang
bisa mengubah kebiasaan seseorang dalam semalam. Yang menarik, banyak mahasiswa
akhirnya mengembangkan “ritual aneh” menjelang deadline kebiasaan unik yang
mungkin terlihat tidak masuk akal, tapi justru membantu mereka bertahan
menghadapi tekanan tugas.
Salah satu kebiasaan paling umum
adalah munculnya semangat belajar mendadak. Mahasiswa yang biasanya santai bisa
tiba-tiba berubah menjadi versi super produktif. Meja yang sebelumnya
berantakan mendadak rapi, kamar jadi bersih, bahkan playlist belajar langsung
tersusun rapi. Lucunya, energi ini hanya muncul ketika deadline tinggal
beberapa jam lagi seolah otak tahu kapan harus panik.
Selain itu, banyak mahasiswa
mengadopsi “ritme malam hari”. Mereka merasa justru bisa fokus di tengah sunyi.
Lampu meja menyala, laptop terbuka, dan kopi instan menjadi teman setia. Ada
perasaan heroik tersendiri ketika berhasil mengerjakan tugas saat semua orang
sedang tidur. Meskipun jam tidurnya hancur, perasaan “aku berhasil survive”
membuat semuanya terasa worth it.
Tidak sedikit pula yang punya
kebiasaan menunda dengan cara kreatif. Menonton satu episode drama dulu, scroll
TikTok sebentar, atau tiba-tiba ingin mengatur ulang folder laptop. Penundaan
ini memang tidak produktif, tetapi bagi sebagian mahasiswa, ini justru cara
untuk menenangkan pikiran sebelum benar-benar tenggelam dalam tugas. Pada
akhirnya, entah bagaimana, tugas tetap selesai meski seringnya mepet detik
terakhir sebelum dikumpulkan.
Ritual lain yang cukup menarik
adalah tradisi curhat antar teman. Ketika satu orang panik, efeknya menyebar.
Grup chat mendadak ramai dengan keluhan, stiker emosional, dan seruan saling
menyemangati. Rasanya seperti sedang berada dalam perang yang sama, meski
tugasnya berbeda. Dukungan dari teman inilah yang membuat mahasiswa merasa
tidak sedang berjuang sendirian.
Fenomena-fenomena kecil ini
sebenarnya menunjukkan fleksibilitas dan daya adaptasi mahasiswa dalam
menghadapi tekanan akademik. Di balik tingkah aneh dan kebiasaan tidak terduga
itu, ada proses pengelolaan stres yang berjalan secara alami. Setiap orang
punya cara masing-masing untuk menghadapi deadline: ada yang panik, ada yang
santai, ada yang tiba-tiba rajin, dan ada yang justru menemukan kejernihan di
menit-menit terakhir.
Pada akhirnya, kehidupan mahasiswa
memang tidak pernah bisa dilepaskan dari cerita deadline. Namun justru dari
situ, kita belajar bahwa kekacauan kecil, kebiasaan unik, dan momen panik
bersama adalah bagian berharga dari perjalanan kuliah. Dan meskipun melelahkan,
itu semua kelak menjadi kenangan lucu yang selalu bisa diceritakan ulang
setelah lulus.
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus