Sekolah Daerah 3T Hadapi Tantangan Besar dalam Akses Sumber Belajar Digital
Sekolah-sekolah di daerah 3T menghadapi tantangan besar dalam mengakses sumber belajar online. Minimnya infrastruktur teknologi membuat proses digitalisasi berjalan sangat lambat. Banyak pelajar kesulitan mengikuti pembelajaran daring akibat keterbatasan sinyal. Perangkat belajar seperti laptop atau tablet juga tidak tersedia secara merata. Kondisi ini menyebabkan kesenjangan digital semakin terasa dibandingkan wilayah lain. Guru di daerah tersebut harus mencari cara kreatif agar pembelajaran tetap berlangsung. Banyak kegiatan belajar dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan alat seadanya. Situasi ini menunjukkan bahwa akses digital belum sepenuhnya merata.
Banyak siswa harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan sinyal internet. Pengalaman ini menunjukkan ketimpangan besar dalam pemerataan teknologi pendidikan. Proses belajar daring yang seharusnya mempermudah justru menjadi beban tambahan bagi mereka. Siswa yang tidak memiliki perangkat harus bergantian menggunakan satu gawai bersama keluarga. Hal ini membuat waktu belajar menjadi terbatas dan kurang optimal. Kesulitan tersebut berdampak langsung pada pencapaian hasil belajar mereka. Guru berusaha memberikan modul cetak sebagai alternatif agar siswa tetap belajar. Namun solusi tersebut tidak sepenuhnya menutupi kebutuhan pembelajaran digital.
Kesenjangan digital juga terlihat dari kurangnya literasi teknologi di daerah 3T. Banyak siswa yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi pembelajaran modern. Guru pun membutuhkan waktu lebih lama untuk memberikan pelatihan dasar penggunaan perangkat. Kondisi ini membuat proses belajar digital berlangsung tidak seefisien di daerah lain. Siswa baru dapat belajar setelah memahami cara mengoperasikan aplikasi, bukan langsung pada materi pelajaran. Hambatan tersebut menambah tantangan dalam penerapan pembelajaran berbasis teknologi. Pelatihan berkala menjadi kebutuhan mendesak agar siswa dapat beradaptasi. Gap kemampuan ini menjadi salah satu pendorong lambatnya transformasi pendidikan digital.
Di tengah keterbatasan, beberapa sekolah berupaya membuat pusat belajar sederhana. Pusat tersebut biasanya memanfaatkan ruangan kosong sebagai tempat akses internet bersama. Fasilitas ini menjadi solusi alternatif untuk membantu siswa mengerjakan tugas digital. Namun kapasitasnya sangat terbatas sehingga hanya sebagian kecil yang bisa memanfaatkan. Siswa tetap harus mengatur giliran untuk menggunakan perangkat bersama. Kondisi ini menunjukkan bahwa fasilitas digital masih jauh dari kata memadai. Upaya tersebut dilakukan agar pelajar tetap mendapatkan kesempatan belajar online meski minim sumber daya. Situasi ini menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di daerah terpencil.
Kondisi ini menegaskan pentingnya pemerataan akses digital untuk semua pelajar. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, kesenjangan pendidikan akan semakin melebar. Banyak siswa di daerah 3T berharap mendapatkan jaringan internet yang lebih stabil. Mereka juga berharap adanya perangkat belajar yang bisa mereka gunakan secara mandiri. Transformasi digital pendidikan hanya bisa berjalan jika infrastruktur benar-benar mendukung. Program literasi teknologi harus diperkuat agar siswa mampu bersaing dengan daerah lain. Upaya tersebut menjadi bagian penting dari pemerataan kualitas pendidikan nasional. Tantangan besar ini menunjukkan bahwa akses digital adalah kebutuhan mendesak bagi masa depan generasi muda.
Penulis: Mutia Syafa Yunita