Sekolah Tanpa PR? Konsep Baru Pembelajaran yang Ramai Diperbincangkan
pgsd.fip.unesa.ac.id- Gagasan sekolah tanpa pekerjaan rumah (PR) mulai ramai diperbincangkan di dunia pendidikan Indonesia. Konsep ini muncul sebagai respons terhadap keluhan siswa dan orang tua mengenai beban belajar yang berlebihan di rumah. Beberapa sekolah dasar mulai menguji kebijakan ini dengan memindahkan aktivitas latihan dan pendalaman materi sepenuhnya ke jam sekolah.
pgsd.fip.unesa.ac.id- Pendukung konsep sekolah tanpa PR menilai bahwa anak SD membutuhkan lebih banyak waktu untuk bermain, beristirahat, dan berinteraksi dengan keluarga. Waktu di luar sekolah dianggap penting untuk perkembangan sosial dan emosional anak. Dengan mengurangi PR, siswa diharapkan datang ke sekolah dengan kondisi mental yang lebih segar dan siap belajar.
pgsd.fip.unesa.ac.id- Di sisi lain, guru yang menerapkan konsep ini menyesuaikan strategi pembelajaran di kelas. Jam belajar dimanfaatkan secara lebih efektif melalui diskusi, latihan langsung, kerja kelompok, dan pembelajaran berbasis proyek. Dengan demikian, siswa tetap memperoleh pemahaman materi tanpa harus membawa beban tugas ke rumah.
pgsd.fip.unesa.ac.id- Meski demikian, tidak sedikit pihak yang masih mempertanyakan efektivitas sekolah tanpa PR. Beberapa orang tua beranggapan bahwa PR tetap diperlukan untuk melatih tanggung jawab dan kemandirian belajar anak. Oleh karena itu, sekolah perlu mengomunikasikan tujuan dan mekanisme kebijakan ini secara jelas agar mendapat dukungan semua pihak.
pgsd.fip.unesa.ac.id- Konsep sekolah tanpa PR menunjukkan bahwa dunia pendidikan terus beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik. Dengan evaluasi yang berkelanjutan, kebijakan ini berpotensi menciptakan pembelajaran yang lebih seimbang antara akademik, kesehatan mental, dan kehidupan keluarga siswa.
Penulis: Adeluh Febiola
Gambar: Google