Self-Care Bukan Selfish: Mengapa Mahasiswa Harus Mulai Peduli pada Tubuhnya
Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya tentang
mengejar IPK tinggi atau aktif dalam organisasi. Tantangan sebenarnya adalah
bagaimana tetap menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah jadwal yang padat,
tugas yang menumpuk, dan aktivitas kampus yang tidak pernah berhenti. Banyak
mahasiswa ingin hidup sehat — makan teratur, tidur cukup, rajin olahraga —
tetapi kenyataannya tidak semudah itu.
Menjadi mahasiswa seringkali membuat kita tenggelam dalam
aktivitas yang tidak ada habisnya. Tugas, rapat organisasi, kelas pagi yang
harus dikejar, hingga kegiatan kepanitiaan yang menumpuk membuat pola hidup
perlahan berantakan. Banyak dari kita yang makan tidak teratur, begadang hampir
setiap hari, dan tetap memaksa diri untuk produktif meski tubuh sudah memberi
tanda lelah.
Dari semua itu, aku belajar bahwa self-care bukanlah bentuk
kemewahan, apalagi kemalasan. Self-care adalah cara paling dasar untuk
menghargai tubuh yang setiap hari bekerja keras menopang langkah kita.
Sesederhana makan tepat waktu, tidur yang cukup, atau memberi jeda lima menit
untuk menarik napas, semuanya bukan untuk memanjakan diri secara berlebihan,
tetapi untuk menjaga kewarasan dan kesehatan di tengah tuntutan dunia kampus.
Aku juga sadar bahwa tubuh bukan mesin yang bisa terus
dipaksa bekerja tanpa henti. Ada batas yang harus dihargai, ada sinyal yang
harus didengar, dan ada perhatian yang harus diberikan. Ketika kita mengabaikan
tubuh, sebenarnya kita merugikan diri sendiri dalam jangka panjang—baik
akademik, kesehatan mental, maupun kehidupan sosial.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa merawat diri adalah
bagian penting dari perjalanan menjadi mahasiswa yang kuat dan tahan banting.
Self-care bukan selfish; itu adalah bentuk cinta terhadap diri sendiri agar
kita bisa tumbuh, belajar, dan bertahan pada hari-hari yang berat. Jika kita
tidak menjaga diri, siapa lagi?
Penulis : Yemma Nardila