Seragam Sekolah: Identitas, Disiplin, atau Sekadar Formalitas?
Seragam sekolah telah lama menjadi
bagian dari budaya pendidikan di Indonesia. Hampir seluruh siswa dari berbagai
jenjang tumbuh dengan ritme yang sama, mulai dari menyiapkan seragam rapi
setiap pagi hingga mengikuti aturan pemakaian yang telah ditetapkan sekolah.
Namun di balik keseragaman itu muncul pertanyaan yang semakin relevan untuk
ditinjau secara kritis. Apakah seragam benar-benar berfungsi sebagai alat
pembentuk identitas dan kedisiplinan atau hanya menjadi simbol formalitas yang
dipertanyakan manfaatnya?
Dari sudut pandang historis, seragam
tidak hanya dirancang sebagai pakaian fungsional melainkan simbol rasa
kebersamaan. Banyak pihak percaya bahwa pakaian yang seragam dapat menghapus
perbedaan kelas sosial dan memberi ruang bagi kesetaraan antar siswa. Namun
pengalaman di lapangan justru mengungkap dinamika yang lebih kompleks.
Keseragaman pakaian tidak serta merta menghapus hierarki sosial karena
perbedaan status tetap terlihat melalui aksesoris dan gaya. Seragam dalam hal
ini bukan solusi total bagi isu kesenjangan, tetapi lebih berperan sebagai
identitas sekolah.
Dalam konteks kedisiplinan,
keberadaan seragam sering dianggap mampu membangun keseriusan belajar dan
mengurangi perilaku menyimpang. Meski demikian, penelitian pendidikan
menunjukkan bahwa kedisiplinan yang lahir dari kepatuhan visual belum tentu
sejalan dengan pembentukan karakter tanggung jawab. Dalam beberapa situasi
penegakan aturan seragam justru memunculkan konflik baru terutama ketika aturan
lebih menonjol sebagai instrumen kontrol ketimbang upaya memfasilitasi
pembentukan sikap positif. Ketika energi sekolah lebih tercurahkan pada
memastikan panjang rok atau model rambut ketimbang kualitas interaksi
pembelajaran, fungsi aturan seragam menjadi rancu.
Seragam juga sering dikaitkan dengan
pembentukan identitas kebangsaan. Siswa dianggap mewakili nilai persatuan
melalui kesamaan warna, desain, dan atribut. Namun identitas nasional yang
bermakna tidak hanya dibangun dari simbol tampak tetapi dari ruang dialog,
pengalaman bersama, dan relasi antarbudaya yang setara. Jika seragam hanya
menjadi kewajiban tanpa ruang refleksi dan pemahaman makna maka upaya membangun
identitas kebangsaan melalui pakaian berisiko menjadi ritual kosong.
Aspek lain yang jarang dibicarakan
secara terbuka adalah hak siswa untuk berekspresi. Di masa remaja pakaian
sering menjadi medium untuk mengenali diri, bereksperimen dengan identitas, dan
mengekspresikan gaya personal. Ketika sekolah menerapkan aturan pakaian yang
terlalu rigid ruang ekspresi tersebut dapat terbatasi. Namun di sisi lain
regulasi tetap diperlukan agar penggunaan pakaian tidak memunculkan kesenjangan
mencolok atau gaya yang tidak pantas di lingkungan sekolah. Tantangan terbesar
adalah menemukan titik tengah yang menghormati nilai pendidikan tanpa mematikan
keunikan individu.
Di luar persoalan identitas dan
ekspresi ada dimensi yang lebih konkret dan sangat terasa yakni beban ekonomi.
Banyak keluarga terutama dari latar belakang sosial ekonomi rendah harus
menyediakan anggaran khusus untuk membeli seragam baru setiap tahun bahkan pada
beberapa sekolah wajib membeli melalui pemasok tertentu dengan harga lebih
tinggi dibandingkan pasar umum. Alih-alih menjadi alat pemerataan seragam
justru dapat memperkuat beban finansial dan menciptakan diskriminasi
tersembunyi bagi siswa yang tidak mampu memenuhi standar pakaian baru dan rapi.
Dari keseluruhan dinamika tersebut
muncul kebutuhan mendesak untuk mengevaluasi ulang posisi seragam dalam sistem
pendidikan Indonesia. Kebijakan mengenai seragam semestinya tidak hanya
dipandang sebagai aturan administratif tetapi sedikitnya mencerminkan nilai
keadilan sosial, penghargaan terhadap keberagaman, dan relevansinya terhadap
tujuan pendidikan. Dialog terbuka antara siswa, guru, orang tua, dan lembaga
pendidikan perlu dihadirkan agar keputusan yang diambil mencerminkan kebutuhan
nyata bukan sekadar tradisi yang diteruskan tanpa refleksi.
Pada akhirnya isu seragam membawa
kita pada pertanyaan lebih luas tentang sistem pendidikan itu sendiri. Apakah
sekolah bertujuan mencetak individu yang taat pada aturan visual atau mendidik
generasi yang mampu berpikir kritis, menghargai keberagaman, dan memahami makna
identitas dalam konteks sosial. Seragam tidak perlu dihapus tetapi perlu
diposisikan ulang dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Dengan begitu seragam
bukan lagi sekadar pakaian melainkan simbol yang selaras dengan nilai
pendidikan yang ingin dibangun.
Penulis : Hafizh Muhammad Ridho
Sumber : https://sl.bing.net/fajoRsyfe2e