Siswa dan Guru Kerja Sama dalam Mengembangkan Kurikulum Lokal
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Siswa dan guru semakin
aktif menjalin kerja sama dalam mengembangkan kurikulum lokal yang relevan
dengan kebutuhan lingkungan sekitar. Kolaborasi ini bertujuan agar proses
pembelajaran lebih kontekstual dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Materi yang disusun tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menekankan
penerapan nilai dan keterampilan praktis. Keterlibatan siswa memberi ruang bagi
ide-ide segar yang berasal dari pengalaman langsung. Guru berperan sebagai
fasilitator yang mengarahkan gagasan agar tetap selaras dengan tujuan
pembelajaran. Kurikulum lokal yang dihasilkan diharapkan mampu meningkatkan
minat belajar. Proses ini juga mendorong rasa memiliki terhadap pembelajaran.
Dengan demikian, suasana belajar menjadi lebih bermakna dan partisipatif.
Dalam pelaksanaannya, diskusi rutin
dilakukan untuk mengidentifikasi potensi daerah yang bisa diangkat menjadi
materi belajar. Siswa menyampaikan pandangan tentang isu lingkungan, budaya,
dan sosial yang mereka temui. Guru kemudian membantu mengolah masukan tersebut
menjadi struktur pembelajaran yang sistematis. Kerja sama ini menumbuhkan
komunikasi dua arah yang sehat. Setiap pihak belajar untuk saling mendengar dan
menghargai sudut pandang berbeda. Hasil diskusi menjadi dasar penyusunan topik
pembelajaran. Materi yang dihasilkan dinilai lebih relevan dengan kehidupan
siswa. Hal ini membuat proses belajar terasa lebih dekat dan nyata.
Pengembangan kurikulum lokal juga
mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Mereka tidak hanya menerima
materi, tetapi turut terlibat dalam proses perancangannya. Guru memberikan
bimbingan agar ide yang muncul tetap memiliki nilai edukatif. Kegiatan ini
melatih siswa dalam menyampaikan pendapat secara terstruktur. Selain itu, siswa
belajar bekerja dalam tim dan bertanggung jawab atas keputusan bersama. Guru
pun memperoleh wawasan baru dari sudut pandang siswa. Interaksi ini menciptakan
hubungan belajar yang lebih setara. Dampaknya terlihat pada meningkatnya
keaktifan di kelas.
Kurikulum yang dikembangkan bersama
mampu menyesuaikan pembelajaran dengan karakter lokal. Nilai-nilai budaya dan
kearifan setempat dapat diintegrasikan secara alami. Siswa merasa lebih
dihargai karena pengalaman mereka dijadikan bagian dari materi belajar. Guru
dapat mengaitkan pembelajaran dengan situasi nyata di sekitar. Pendekatan ini
membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam. Pembelajaran tidak lagi
terasa abstrak atau jauh dari kehidupan mereka. Proses belajar menjadi lebih
dinamis dan kontekstual. Hal ini berdampak positif pada pemahaman dan sikap
belajar siswa.
Ke depan, kerja sama antara siswa
dan guru diharapkan terus berkembang secara berkelanjutan. Model kolaboratif
ini dinilai mampu menjawab tantangan pembelajaran yang terus berubah. Kurikulum
lokal yang adaptif dapat mendukung penguatan karakter dan keterampilan. Siswa
menjadi subjek aktif dalam proses pendidikan. Guru tetap memegang peran penting
sebagai pembimbing dan pengarah. Sinergi ini menciptakan ekosistem belajar yang
inklusif. Pembelajaran menjadi ruang bersama untuk tumbuh dan berinovasi. Dengan
kolaborasi yang kuat, kualitas pendidikan di tingkat lokal dapat terus
ditingkatkan.
Penulis: Hanaksa Erviga Putri Suprapto