Strategi Mahasiswa PGSD Menciptakan Manajemen Kelas yang Inklusif dan Positif
Manajemen kelas yang efektif bagi calon guru Sekolah Dasar
(PGSD) harus dipahami bukan sekadar sebagai penegakan disiplin, melainkan
sebagai seni membangun sebuah komunitas belajar yang aman, produktif, dan
inklusif, di mana setiap siswa terlepas dari latar belakangnya, gaya belajar, atau kebutuhan khusus merasa
diterima dan memiliki akses penuh terhadap pembelajaran, menjadikan penguasaan
pengelolaan keberagaman ini sebagai prasyarat utama kesuksesan seorang guru di
era modern. Fondasi dari kelas yang terkelola dengan baik adalah pilar pertama,
yaitu pembangunan hubungan yang positif dan otentik, di mana guru harus
proaktif menyambut setiap siswa secara personal di awal hari untuk menunjukkan
bahwa keberadaan mereka penting, mempraktikkan mendengarkan aktif saat siswa
berbagi ide atau masalah untuk membangun kepercayaan, dan berfokus pada
pencegahan masalah perilaku melalui observasi rutin alih-alih hanya bereaksi
setelah masalah muncul. Kemudian, pilar kedua berpusat pada Desain Pembelajaran
Universal (Universal Design for Learning/UDL), yang menuntut guru untuk
merancang pelajaran yang fleksibel dan dapat diakses oleh semua siswa sejak
awal perencanaan dengan menggunakan penyampaian materi yang beragam baik
visual, auditori, maupun kinestetik serta memberikan opsi ekspresi yang berbeda
bagi siswa (misalnya, poster atau presentasi lisan alih-alih tes tertulis)
untuk mendemonstrasikan pemahaman mereka, didukung oleh pengaturan ruang kelas
yang fleksibel untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan sensorik dan aktivitas
kelompok. Akhirnya, pilar ketiga melibatkan Manajemen Perilaku Berbasis
Restorative Justice, yang menggantikan hukuman pembalasan dengan pendekatan
pemulihan, mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab dan memperbaiki hubungan
yang rusak, dilakukan melalui pembuatan Kesepakatan Kelas Bersama agar siswa
merasa memiliki aturan, penyediaan Waktu Tenang (Cool-Down Corner) sebagai
tempat regulasi emosi, dan penggunaan Lingkaran Komunikasi (Talking Circle)
saat konflik terjadi untuk menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial. Dengan
menginternalisasi filosofi manajemen kelas yang inklusif, Mahasiswa PGSD
melatih diri untuk menjadi pemimpin komunitas yang sensitif terhadap keberagaman,
yang pada akhirnya tidak hanya menertibkan kelas, tetapi menginspirasi siswa
untuk merekah potensi terbaik mereka dalam lingkungan yang saling menghormati.
penulis: adella