STRATEGI MAHASISWA UNTUK “DIGITAL DETOX” DI TENGAH ARUS ARTIFICIAL INTELLIGENCE DAN MEDIA SOSIAL
Di era digital ini, mahasiswa berada
dalam tekanan digital yang semakin pesat, terlebih adanya kehadiran artificial
intelligence (AI) dan media sosial. Berdasarkan penelitian terdahulu,
intensitas penggunaan media sosial sangat berpengaruh dengan peningkatan
tingkat depresi pada mahasiswa. Di sisi lain, kecanduan media sosial juga
memicu kesepian karena interaksi digital menggantikan hubungan nyata. Banyak
mahasiswa melaporkan turunnya kualitas tidur maupun fokus belajar akibat
kebiasaan membuka media sosial. Fakta ini menunjukkan bahwa selain memberikan
kemudahan penggunanya, AI dan media sosial juga menghadirkan risiko besar bagi
kesejahteraan mental dan kinerja akademik. Temuan ini mengindikasikan bahwa,
strategi “digital detox” menjadi sangat penting agar mahasiswa dapat
menjaga keseimbangan hidup digital.
Salah satu langkah strategis yang dapat
diterapkan mahasiswa untuk “digital detox” adalah membuat jadwal harian yang jelas untuk
penggunaan gawai dan media sosial, misalnya satu jam sebelum tidur mahasiswa
dapat mengurangi stimulasi dari notifikasi. Selanjutnya, mahasiswa dapat
menggunakan aplikasi pendukung untuk membatasi durasi penggunaan media sosial
atau memblokir aplikasi tertentu pada jam tertentu. Penting juga untuk
mengganti waktu luang online dengan aktivitas non-digital seperti membaca buku,
olahraga, meditasi, atau berkumpul langsung dengan teman. Aktivitas-aktivitas
ini tidak hanya memberi jeda dari dunia maya, tetapi juga memperkaya kualitas
hubungan sosial dan emosional mereka.
Di sisi lain, mahasiswa dapat menerapkan
teknik mindfulness sebagai bagian dari digital detox. Teknik
seperti meditasi singkat sebelum membuka ponsel dapat membantu mengurangi
keinginan impulsif untuk terus melihat media sosial. Mahasiswa juga dapat
membuat daftar “trigger digital” dan menonaktifkan notifikasi atau
menetapkan prioritas harian. Dalam konteks AI, mereka bisa menjadi lebih
selektif terhadap konten yang dikonsumsi, misalnya dengan unsubscribe
dari saluran yang menghasilkan konten clickbait atau rekomendasi
algoritmik berlebihan. Hal ini membantu mengurangi “dopamin digital”
yang dipicu oleh pola algoritmik media sosial.
Merujuk pada temuan tersebut, mahasiswa
perlu diedukasi tentang konsekuensi jangka panjang dari kecanduan digital dan
bagaimana merancang rutinitas digital sehat. Para pengajar dan dosen dapat
mendorong kebijakan “kelas bebas ponsel” atau mengintegrasikan waktu
refleksi digital dalam kegiatan kampus. Kampus juga dapat workshop literasi
digital yang mengajarkan bagaimana AI dan algoritma media sosial bekerja serta
bagaimana dampak psikologis dari penggunaan berlebihan sehingga mahasiswa dapat
lebih memahami bahwa AI yang mengatur feed media sosial bisa diatur dengan
perilaku pengguna yang bijak.
Dengan demikian, digital detox
bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan bagi mahasiswa di tengah derasnya arus AI
dan media sosial. Strategi seperti manajemen waktu penggunaan gawai, teknik mindfulness,
pendidikan digital, serta kebijakan kampus bisa membantu mahasiswa
mengendalikan dampak negatif media sosial sehingga mahasiswa dapat tetap
memanfaatkan kecanggihan teknologi tanpa mengorbankan kesehatan mental,
produktivitas akademik, dan kualitas hidup.
Penulis: Etika Meilani