Strategi Menghadapi Perilaku Disruptif Siswa Melalui Pendekatan Pengkondisian Klasik
pgsd.fip.unesa.ac.id Menghadapi perilaku disruptif atau gangguan di dalam kelas merupakan tantangan besar yang memerlukan pendekatan psikologis yang tenang namun sangat terukur bagi setiap pengajar. Salah satu cara yang efektif adalah dengan menerapkan prinsip pengkondisian klasik untuk menciptakan suasana belajar yang lebih tertib dan terkendali secara alami. Pendekatan ini melibatkan penciptaan asosiasi antara isyarat tertentu dari guru dengan respon ketenangan yang diharapkan muncul secara spontan dari siswa. Misalnya, penggunaan instrumen musik lembut atau isyarat tangan tertentu dapat dijadikan penanda bahwa waktu bicara telah selesai dan pelajaran dimulai. Fokus utama dari strategi ini adalah membangun lingkungan yang stabil sehingga anak-anak merasa aman dan memahami batasan tanpa perlu bentakan. Perilaku disruptif sering kali muncul karena siswa merasa kurang mendapatkan perhatian atau bingung dengan aturan yang tidak konsisten di kelas. Dengan membangun pola yang rutin dan dapat diprediksi, tingkat kecemasan anak dapat menurun sehingga perilaku mengganggu pun akan berkurang. Pendidikan yang berkualitas dimulai dari manajemen kelas yang mampu mengubah kekacauan menjadi harmoni melalui pendekatan yang sangat manusiawi.
Pendidik perlu menyadari bahwa perilaku mengganggu sering kali merupakan bentuk komunikasi dari siswa yang memiliki kebutuhan emosional yang belum terpenuhi dengan baik. Langkah pertama dalam pengkondisian klasik ini adalah dengan menautkan stimulus netral dengan kondisi yang membuat siswa merasa tenang serta sangat nyaman. Pengulangan menjadi kunci utama agar siswa dapat merespon isyarat yang diberikan oleh guru tanpa perlu adanya instruksi lisan yang keras. Guru harus tetap konsisten dalam menunjukkan sikap tenang meskipun sedang menghadapi situasi kelas yang cukup sulit atau penuh dengan gangguan. Jika guru merespon teriakan siswa dengan teriakan pula, maka lingkungan kelas akan terkondisi menjadi tempat yang penuh dengan ketegangan saraf. Sebaliknya, respon yang stabil dan penuh kendali diri dari guru akan menjadi jangkar bagi ketenangan seluruh siswa di ruang kelas. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena melibatkan pembentukan memori otot dan emosional kolektif bagi semua penghuni kelas. Melalui latihan yang terus menerus, isyarat sederhana dari guru akan mampu mengembalikan fokus belajar seluruh siswa dalam waktu yang sangat singkat.
Strategi ini juga sangat menekankan pada pentingnya menciptakan lingkungan fisik yang mendukung fokus belajar siswa agar tidak mudah terdistraksi oleh hal luar. Penataan tempat duduk dan pencahayaan yang tepat dapat menjadi stimulus tambahan yang mendukung terciptanya kedisiplinan belajar secara alami di dalam kelas. Guru dapat menyelipkan ritual-ritual kecil yang menyenangkan setiap kali transisi mata pelajaran terjadi agar siswa tidak merasa jenuh atau lelah. Pendekatan klasik ini membantu anak-anak untuk mengatur diri mereka sendiri berdasarkan isyarat lingkungan yang telah mereka pelajari secara mendalam sebelumnya. Setiap kali perilaku tertib muncul, guru harus memberikan penguatan emosional agar asosiasi positif tersebut semakin kuat tertanam dalam sanubari anak. Perlu dipahami bahwa hukuman yang bersifat mempermalukan siswa tidak memiliki tempat dalam metode pengkondisian yang bertujuan untuk membangun karakter. Fokus utama tetap pada perbaikan suasana hati siswa agar mereka memiliki kesiapan mental yang optimal untuk menerima transfer ilmu pengetahuan. Keberhasilan dalam meredam perilaku disruptif akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas interaksi sosial antar siswa di lingkungan sekolah tersebut.
Dalam implementasinya, kolaborasi dengan orang tua siswa juga sangat diperlukan agar pola pengkondisian yang positif dapat berlanjut hingga ke rumah. Orang tua perlu diinformasikan mengenai isyarat-isyarat tertentu yang digunakan di kelas agar dapat dipraktikkan juga saat anak sedang belajar mandiri. Sinkronisasi antara pola asuh di rumah dan di sekolah akan membantu anak memahami batasan perilaku secara lebih cepat dan utuh. Guru dapat memberikan laporan perkembangan perilaku siswa secara rutin yang berfokus pada kemajuan positif yang telah dicapai oleh anak. Hindari memberikan label negatif pada anak yang sering mengganggu karena hal tersebut justru akan memperburuk perilaku disruptif di masa depan. Berikan kesempatan kepada siswa yang sering mengganggu untuk memegang tanggung jawab kecil yang dapat meningkatkan rasa harga diri mereka sendiri. Dengan merasa dihargai, keinginan siswa untuk mencari perhatian melalui cara-cara yang salah akan perlahan menghilang dan berganti menjadi prestasi. Kedewasaan seorang pendidik tercermin dari kemampuannya dalam mengelola emosi pribadi saat menghadapi perilaku siswa yang paling sulit sekalipun di kelas.
Sebagai penutup, mengatasi gangguan belajar melalui pendekatan pengkondisian klasik adalah bentuk dedikasi tinggi guru dalam memahami psikologi perkembangan anak secara mendalam. Mari kita jadikan ruang kelas sebagai tempat yang menenangkan di mana setiap anak dapat belajar dengan penuh konsentrasi dan kebahagiaan. Tantangan mendidik generasi masa kini memang tidak mudah, namun dengan ilmu pengetahuan dan kesabaran, semua hambatan dapat kita lalui. Setiap perubahan kecil menuju arah yang lebih tertib adalah kemenangan besar bagi masa depan pendidikan karakter anak bangsa kita. Teruslah berinovasi dalam mengelola kelas agar proses transfer ilmu dapat berjalan dengan maksimal tanpa adanya gangguan yang berarti dari mana pun. Harapan kita adalah melihat setiap siswa tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kendali diri yang kuat serta etika yang sangat mulia. Masa depan dunia yang damai dimulai dari bagaimana kita mengajar anak-anak untuk tenang dan saling menghargai sejak dini di kelas. Akhirnya, pendidikan adalah proses menumbuhkan jiwa, dan manajemen perilaku adalah cara kita untuk memastikan jiwa tersebut tumbuh dengan sangat indah.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google