Teknik Pembentukan Perilaku secara Bertahap untuk Menguasai Materi Sulit
pgsd.fip.unesa.ac.id Teknik pembentukan perilaku secara bertahap atau yang dikenal dengan istilah shaping kini menjadi strategi unggulan bagi pendidik untuk membantu siswa menguasai kompetensi yang rumit. Metode ini bekerja dengan cara memberikan penguatan pada setiap langkah kecil yang mendekati target perilaku akhir yang diinginkan oleh guru di dalam kelas. Sering kali siswa merasa putus asa saat menghadapi materi yang terlalu kompleks jika harus diselesaikan secara instan dalam satu waktu pelajaran saja. Melalui teknik ini, tujuan besar tersebut dipecah menjadi beberapa bagian sederhana yang lebih mudah dicapai dan dikuasai oleh siswa sekolah dasar. Setiap kali siswa berhasil melewati satu tahapan kecil, mereka mendapatkan apresiasi yang akan memotivasi mereka untuk melangkah ke tahap yang berikutnya. Guru bertindak sebagai pemandu yang memberikan dukungan intensif pada awal proses dan perlahan menguranginya seiring dengan meningkatnya kemandirian siswa tersebut. Strategi ini sangat efektif untuk membangun kepercayaan diri bagi siswa yang sering mengalami kesulitan belajar atau memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Dengan pendekatan yang sistematis, materi yang awalnya terlihat mustahil untuk dikuasai akan menjadi lebih masuk akal dan dapat dicapai dengan sukses.
Proses shaping dimulai dengan mengidentifikasi kemampuan awal siswa dan menetapkan target akhir yang jelas serta terukur secara spesifik di dalam rencana pembelajaran. Pendidik harus memiliki kesabaran ekstra karena fokus utama teknik ini adalah pada kemajuan kecil yang bersifat berkelanjutan dan terus menerus dilakukan. Misalnya, dalam melatih kemampuan menulis narasi, guru dapat mulai memberikan penguatan saat siswa berhasil menuliskan satu kalimat pembuka yang benar secara tata bahasa. Setelah tahap tersebut konsisten, penguatan hanya diberikan jika siswa mampu menyusun satu paragraf utuh yang memiliki keterkaitan ide yang sangat logis. Tahapan berikutnya berlanjut pada pengembangan alur cerita hingga akhirnya siswa mampu menghasilkan satu karya tulis lengkap yang berkualitas tinggi sesuai standar. Kunci keberhasilan dari teknik ini adalah jangan pernah memberikan penguatan pada perilaku yang sudah dikuasai sebelumnya agar siswa terus bergerak maju. Siswa belajar bahwa tantangan adalah bagian dari proses pertumbuhan dan setiap usaha mereka untuk berkembang selalu dihargai dengan sangat layak. Pendekatan ini meminimalkan rasa cemas karena siswa selalu merasa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.
Penggunaan penguatan positif dalam teknik ini harus dilakukan secara selektif dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan tugas yang sedang dihadapi oleh para siswa. Guru perlu memiliki insting yang tajam untuk mengetahui kapan harus menaikkan standar penguatan agar siswa tidak berhenti pada satu zona nyaman saja. Interaksi yang terjadi di dalam kelas menjadi sangat dinamis karena setiap siswa mungkin berada pada tahapan shaping yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini menuntut fleksibilitas pendidik dalam mengelola kelas tanpa harus mengorbankan kualitas pengajaran bagi kelompok siswa yang lebih cepat menguasai materi. Dukungan visual seperti papan kemajuan atau grafik pencapaian dapat membantu siswa melihat sejauh mana mereka telah melangkah menuju target akhir tersebut. Rasa bangga yang muncul saat melihat progres nyata akan menjadi dorongan internal yang sangat kuat bagi anak untuk tetap bertahan dalam belajar. Teknik ini juga melatih fungsi eksekutif otak anak dalam merencanakan langkah-langkah kerja untuk mencapai sebuah tujuan yang besar di masa depan. Pendidikan karakter seperti ketekunan dan disiplin diri secara otomatis terbentuk melalui proses pembentukan perilaku yang dilakukan dengan sangat konsisten ini.
Hambatan dalam menerapkan teknik ini biasanya muncul dari keinginan untuk mendapatkan hasil yang serba instan tanpa menghargai pentingnya sebuah proses belajar. Banyak orang dewasa yang terjebak pada tuntutan hasil akhir tanpa memperhatikan bahwa setiap anak memiliki garis awal yang berbeda-beda dalam kemampuannya. Pendidik harus mampu memberikan edukasi kepada lingkungan sekitar mengenai pentingnya menghargai setiap langkah kecil kemajuan yang diraih oleh setiap individu anak. Jangan sampai penguatan yang diberikan justru membuat siswa menjadi ketergantungan pada hadiah eksternal untuk melakukan hal-hal yang bersifat wajib dilakukan. Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu, penguatan materiil harus mulai digantikan dengan penguatan sosial yang lebih bersifat emosional dan membangkitkan motivasi intrinsik. Kemandirian yang terbentuk melalui teknik ini akan jauh lebih kokoh karena didasari oleh akumulasi keberhasilan kecil yang berulang-ulang dirasakan siswa. Masa depan generasi yang tangguh lahir dari ruang kelas yang menghargai setiap proses belajar sebagai sebuah perjalanan yang berharga untuk ditempuh. Guru sebagai arsitek perilaku memiliki tanggung jawab untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa ditinggalkan dalam proses belajar ini.
Sebagai kesimpulan, teknik pembentukan perilaku secara bertahap merupakan solusi edukatif yang sangat ampuh untuk mengatasi berbagai kesulitan belajar siswa di jenjang dasar. Mari kita terapkan strategi ini dengan penuh kesadaran bahwa mendidik adalah proses menyemai benih kemajuan langkah demi langkah menuju kesempurnaan karakter. Setiap apresiasi yang kita berikan pada kemajuan kecil siswa adalah bahan bakar bagi semangat mereka untuk menaklukkan dunia pengetahuan yang luas. Keberhasilan seorang pendidik bukan diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan seberapa banyak siswa yang berhasil melampaui batas kemampuan mereka. Mari kita ciptakan ekosistem pendidikan yang ramah terhadap proses dan selalu memberikan ruang bagi setiap anak untuk terus tumbuh dan berkembang. Semangat kolaborasi antara guru dan siswa dalam menjalankan teknik ini akan membuahkan hasil berupa lulusan yang kompeten dan sangat percaya diri. Masa depan pendidikan bangsa yang unggul sangat bergantung pada kemauan kita untuk terus berinovasi dalam setiap metode pengajaran yang kita lakukan. Akhirnya, mendidik dengan teknik yang tepat adalah bentuk pengabdian tertinggi untuk memastikan setiap anak meraih potensi terbaik dalam hidup mereka masing-masing.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google