Terjebak Angka: Ketika Kuantitas Menjadi Ukuran Tunggal Keberhasilan
Kata kunci: keberhasilan pendidikan
pgsd.fip.unesa.ac.id – Dalam sistem pendidikan modern, angka sering dijadikan ukuran utama keberhasilan. Nilai ujian, persentase kelulusan, jumlah program, hingga capaian laporan administratif menjadi tolok ukur yang paling mudah dilihat. Namun, ketika kuantitas dijadikan ukuran tunggal, pendidikan berisiko terjebak pada keberhasilan semu yang miskin makna.
Orientasi pada angka membuat pendidikan berjalan dalam logika efisiensi dan pencapaian target. Sekolah dinilai baik ketika statistiknya meningkat, tanpa selalu mempertanyakan bagaimana proses pembelajaran berlangsung. Akibatnya, keberhasilan pendidikan direduksi menjadi sekumpulan data, bukan perubahan nyata pada diri peserta didik.
Ketika kuantitas menjadi fokus utama, proses pembelajaran sering kali disederhanakan. Guru dituntut menyelesaikan materi sesuai jadwal dan memastikan siswa mencapai standar minimal. Ruang untuk diskusi, refleksi, dan eksplorasi pemikiran menjadi terbatas karena dianggap tidak langsung berkontribusi pada capaian angka.
Siswa pun terdampak oleh budaya ini. Belajar tidak lagi dimaknai sebagai proses memahami dan berkembang, melainkan sebagai upaya memperoleh nilai. Banyak siswa mampu mencapai angka yang diharapkan, tetapi kesulitan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata. Hal ini menunjukkan bahwa angka tidak selalu mencerminkan kualitas belajar.
Terjebak angka juga memengaruhi cara evaluasi dilakukan. Aspek-aspek penting seperti karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis sering terpinggirkan karena sulit diukur secara kuantitatif. Padahal, kualitas pendidikan justru terletak pada kemampuan tersebut yang menentukan kesiapan siswa menghadapi kehidupan.
Mengatasi persoalan ini membutuhkan perubahan cara pandang terhadap keberhasilan pendidikan. Angka tetap penting sebagai alat evaluasi, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Pendidikan perlu dinilai dari dampaknya terhadap perkembangan peserta didik secara utuh, baik secara akademik maupun nonakademik.
Secara keseluruhan, terjebak pada angka dapat menjauhkan pendidikan dari tujuan sejatinya. Keberhasilan pendidikan seharusnya diukur dari kualitas proses dan hasil yang bermakna. Dengan menempatkan kualitas sebagai inti, kuantitas akan menjadi pelengkap yang mendukung, bukan penentu tunggal keberhasilan.