Toxic Productivity: Ketika Terlalu Produktif Justru Merusak Mental
pgsd.fip.unesa.ac.id,
Surabaya - Di
dunia kuliah sekarang, banyak orang merasa harus selalu sibuk. Rasanya kalau
jadwal tidak penuh dari pagi sampai malam, itu berarti kita kurang berusaha.
Ada yang kuliah dari pagi, lanjut rapat organisasi, malam ngerjain tugas, dan
kalau belum selesai pun tetap dipaksa begadang. Semua dilakukan supaya terlihat
produktif, padahal sebenarnya capek sekali.
Kebiasaan seperti ini lama-lama bisa
berubah jadi toxic productivity. Kita merasa harus terus melakukan sesuatu
meski badan sudah lelah dan pikiran mulai berat. Kalau lagi istirahat pun
kadang muncul rasa bersalah, seperti "harusnya aku kerja, harusnya aku
ngerjain tugas". Akhirnya waktu istirahat pun tidak benar-benar dinikmati.
Mahasiswa PGSD, apalagi yang aktif
di kampus seperti di FIP Unesa, sering berada dalam situasi ini. Tugas kuliah
banyak, lapangan, microteaching, organisasi, acara kampus, dan tuntutan untuk selalu
terlihat aktif. Mau istirahat sebentar saja sulit, karena selalu ada saja hal
yang harus dikerjakan.
Padahal tubuh dan pikiran punya
batas. Kalau dipaksa terus, kita bisa jadi stress, gampang emosi, atau
kehilangan motivasi kuliah. Ada juga yang akhirnya burnout, yaitu kondisi di
mana kita merasa benar-benar habis, tidak punya tenaga, dan kehilangan semangat
untuk melakukan apa pun.
Toxic productivity biasanya muncul
karena kita takut tertinggal dari orang lain. Takut dianggap tidak produktif.
Takut tidak memenuhi standar orang tua atau lingkungan. Tapi sebenarnya, kita
harus ingat kalau setiap orang punya ritme dan kapasitas masing-masing. Tidak
semua hal harus dilakukan sekaligus, dan tidak semua kegiatan harus diikuti.
Cara sederhana menghindarinya adalah
mulai belajar bilang cukup. Kalau sudah lelah, berhenti dulu. Tidak apa-apa
menunda sebentar untuk makan, tidur, atau sekadar rebahan tanpa memikirkan
tugas. Tidak apa-apa menolak kegiatan kalau memang jadwal sudah penuh. Self
care bukan sikap malas, tapi cara menjaga kewarasan.
Dengan memberi waktu istirahat yang
cukup, kita bisa kembali lebih fokus dan lebih tenang. Produktivitas juga jadi
lebih berkualitas. Dan yang paling penting, kesehatan mental tetap terjaga.
Produktif itu bagus, tapi jangan
sampai diri sendiri dikorbankan. Kita masih punya banyak perjalanan panjang,
dan menjaga diri adalah bagian dari proses menjadi mahasiswa dan calon pendidik
yang lebih kuat.
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus