Tradisi Selapanan Masih Lestari di Desa Kedung Kakap, Gresik
Desa Kedung Kakap,
Kabupaten Gresik, hingga kini masih mempertahankan tradisi selapanan sebagai
bagian dari warisan budaya lokal masyarakat Jawa. Tradisi yang dilaksanakan
setiap 35hari sekali berdasarkan penanggalan Jawa ini menjadi sarana mempererat
hubungan social sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan warga.
Selapanan
dilaksanakan secara bergiliran di rumah warga dan diikuti oleh berbagai lapisan
masyarakat, mulai dari tokoh adat, perangkat desa, hingga warga setempat.
Rangkaian kegiatan biasanya diawali dengan doa bersama, tahlilan, atau
pengajian, kemudian dilanjutkan dengan musyawarah singkat yang membahas kondisi
dan permasalahan desa.
Menurut hasil
wawancara dan observasi yang dilakukan oleh saya Aghnia mahasiswa Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Surabaya, tradisi selapanan
memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial masyarakat. Selain
sebagai bentuk ibadah, kegiatan ini juga menjadi media komunikasi informal yang
efektif antarwarga.
“Melalui
selapanan, warga tidak hanya berdoa bersama, tetapi juga saling bertukar
informasi dan memperkuat rasa kebersamaan,” ujar salah satu warga Desa Kedung
Kakap saat diwawancarai.
Tradisi ini
mengandung berbagai nilai penting, di antaranya nilai religius yang mendorong
peningkatan keimanan dan ketakwaan, nilai sosial yang mempererat silaturahmi,
nilai budaya sebagai upaya pelestarian warisan leluhur, serta nilai moral yang
menumbuhkan sikap saling menghormati dan gotong royong.
Di tengah arus modernisasi yang
menyebabkan sebagian tradisi mulai ditinggalkan generasi muda, selapanan justru
menjadi bukti bahwa masyarakat Desa Kedung Kakap masih memiliki kepedulian
tinggi terhadap budaya lokal. Warga berharap tradisi ini dapat terus
dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai identitas budaya
desa.
Pelestarian tradisi selapanan menunjukkan
bahwa kearifan lokal masih relevan dalam kehidupan masyarakat modern, terutama
dalam membangun solidaritas sosial dan menjaga keharmonisan kehidupan
bermasyarakat.
Mahasiswa
mendengarkan pemaparan materi oleh salah satu warga
Dokumentasi
kegiatan
Identitas Penulis
Penulis: Aghnia Durratun Yoga Hidayat
Mahasiswa PGSD, Universitas Negeri
Surabaya