Transisi PAUD ke SD: Menghapus Tes Calistung dan Memprioritaskan Kematangan Sekolah
pgsd.fip.unesa.ac.id Kebijakan transisi dari PAUD ke SD kini menekankan penghapusan tes calistung sebagai syarat masuk sekolah dasar. Arah perubahan ini dinilai sebagai langkah penting untuk mengurangi tekanan akademik pada anak usia dini. Fokus utama dalam proses transisi dialihkan pada kesiapan belajar secara holistik, bukan sekadar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kematangan sosial emosional, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi menjadi indikator yang lebih relevan untuk kesiapan masuk sekolah. Pendekatan baru ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar awal yang lebih menyenangkan bagi anak. Banyak pihak menilai bahwa proses belajar anak harus berlangsung tanpa tekanan akademik yang berlebihan. Anak membutuhkan ruang untuk berkembang sesuai tahap usia mereka. Perubahan paradigma ini menjadi momentum penting dalam peningkatan kualitas pendidikan dasar.
Selama ini, tes calistung sering dianggap sebagai ukuran kecerdasan awal anak.
Namun, pendekatan ini dinilai keliru karena tidak mempertimbangkan perkembangan
anak secara utuh. Tekanan belajar terlalu dini dapat menimbulkan ketakutan
belajar dan menurunkan percaya diri anak. Dengan pendekatan baru, guru PAUD dan
SD diharapkan dapat bekerja sama untuk memastikan transisi berjalan mulus.
Proses adaptasi dilakukan melalui kegiatan bermain yang menyenangkan dan
kolaboratif. Anak diajak mengenal lingkungan sekolah, teman baru, dan rutinitas
belajar secara bertahap. Kegiatan awal difokuskan pada penguatan karakter,
komunikasi, dan kemampuan mengelola emosi. Transisi yang lembut membantu anak
merasa aman dan nyaman menjalani pembelajaran.
Fokus pembelajaran pada masa
transisi diarahkan pada pengembangan kecakapan dasar non-akademik. Anak dilatih
untuk mampu mengikuti instruksi, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap
tugas sederhana. Kemampuan ini menjadi fondasi penting sebelum memasuki tahap
akademik lebih tinggi. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan
belajar yang positif dan empatik. Pembelajaran berbasis eksplorasi dan bermain
menjadi pilihan utama karena sesuai dengan tahap perkembangan anak. Melalui
aktivitas konkret dan interaksi sosial, anak belajar membangun pemahaman secara
alami. Proses belajar yang menyenangkan terbukti lebih efektif dalam
meningkatkan motivasi. Transisi yang baik akan mempermudah anak memasuki
pembelajaran berikutnya.
Pendekatan tanpa tes calistung
juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan.
Orang tua perlu memahami bahwa perkembangan anak tidak dapat dipaksakan secara
instan. Penghargaan terhadap proses lebih penting daripada hasil akademik
semata. Lingkungan rumah memiliki peran besar dalam membentuk kesiapan belajar
anak. Komunikasi terbuka antara guru dan orang tua dapat mendukung kesuksesan
transisi. Ketika semua pihak sepakat mengutamakan kesejahteraan anak, proses
adaptasi berjalan lebih efektif. Keterlibatan keluarga membantu memperkuat
pemahaman anak terhadap nilai dan kebiasaan sekolah. Hal ini mempercepat proses
penerimaan lingkungan baru.
Transisi PAUD ke SD tanpa tes
calistung menjadi langkah penting dalam membangun sistem pendidikan yang ramah
anak. Perubahan ini memberikan kesempatan bagi setiap anak berkembang sesuai
ritme mereka sendiri. Tanpa tekanan berlebihan, anak lebih mudah mencintai
proses belajar sejak awal. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan kesenjangan
pendidikan dan menciptakan pengalaman sekolah yang positif. Sekolah tetap dapat
mengajarkan calistung, tetapi melalui cara bermain yang menyenangkan dan
bertahap. Dengan dukungan guru, keluarga, dan masyarakat, anak dapat tumbuh
menjadi pembelajar yang percaya diri. Transformasi ini menjadi dasar
pembentukan generasi masa depan yang lebih kuat. Pendidikan sekolah dasar
seharusnya dimulai dari kebahagiaan, bukan ujian.
Penulis: Mutia Syafa Y.
Foto: Google