Trik Seru Menanamkan Semangat Demokrasi dan HAM di Kelas Sekolah Dasar.
Belajar Menghargai Suara Sendiri
Menerapkan demokrasi di SD berarti mengajarkan anak untuk menghargai suara sendiri dan menghormati suara orang lain. Inilah kunci untuk menciptakan warga negara yang bertanggung jawab.
Tiga Pilar Penerapan Demokrasi di Kelas
Pemilihan yang Nyata
Lakukan proses pemilihan ketua kelas atau penentu kegiatan class trip dengan mekanisme yang benar-benar demokratis.
Langkah: Murid membuat visi dan misi, melakukan kampanye sederhana, dan voting dilakukan secara rahasia.
Pelajaran: Anak belajar tanggung jawab (jika terpilih) dan belajar menerima kekalahan dengan lapang dada. Ini adalah pelajaran HAM tentang hak untuk berpartisipasi.
Membuat Aturan Kelas Bersama (Shared Rules)
Alih-alih membuat semua aturan sendiri, ajak murid berdiskusi tentang aturan apa yang penting di kelas.
Filsuf pendidikan John Dewey menekankan bahwa sekolah harus menjadi miniatur masyarakat demokratis, di mana pengalaman belajar sosial (seperti membuat aturan bersama) adalah kunci untuk memahami kehidupan bermasyarakat yang lebih besar.
Pelajaran: Anak belajar hukum dan kesepakatan sosial, yang merupakan akar dari sistem pemerintahan demokratis. Mereka tidak akan melanggar aturan yang mereka buat sendiri.
3. Class Meeting dan Forum Diskusi
Sediakan waktu rutin untuk forum diskusi di mana anak-anak boleh menyampaikan keluhan, ide, atau saran tentang kelas secara terbuka.
Pelajaran: Anak belajar kebebasan berpendapat dan mendengarkan secara aktif (HAM). Guru juga harus bersikap netral dan menggunakan momen ini untuk melatih anak menyelesaikan konflik secara damai.
HAM: Menghargai Diri dan Orang Lain
Konsep HAM di SD disederhanakan menjadi:
Hak untuk Aman: Setiap anak berhak merasa aman dari bullying dan diskriminasi.
Hak untuk Mendapat Dukungan: Setiap anak berhak mendapat materi pelajaran dan dukungan yang ia butuhkan.
Menerapkan demokrasi dan HAM di SD bukan hanya membuat proses belajar lebih terstruktur, tetapi juga membantu membentuk karakter anak menjadi individu yang berani menyuarakan kebenaran dan menghargai keragaman.
Penulis: Enola Aden