Twinkling Watermelon: Inspirasi Belajar Bahasa Isyarat Lewat Drama Korea
pgsd.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Drama Korea Twinkling
Watermelon berhasil menarik perhatian banyak orang karena tidak hanya
menghadirkan kisah yang menyentuh, tetapi juga mengenalkan bahasa isyarat
dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Drama ini mengambil tema keluarga
tunarungu yang penuh kehangatan dan perjuangan, membuat penonton merasa dekat
dan ingin mempelajari bahasa isyarat yang digunakan dalam drama. Drama ini
mengambil tema keluarga tunarungu yang penuh kehangatan dan perjuangan, dengan
bahasa isyarat sebagai jembatan komunikasi mereka.
Salah satu daya tarik utama Twinkling Watermelon adalah
bagaimana bahasa isyarat disampaikan secara alami dan kontekstual dalam cerita.
Dengan visualisasi gerakan tangan dan ekspresi wajah yang ekspresif, bahasa
isyarat jadi mudah diingat dan menarik untuk dipelajari. Keberhasilan drama ini
juga terletak pada kemampuannya membangun empati penonton terhadap
tokoh-tokohnya, khususnya yang mengalami keterbatasan pendengaran. Hal ini
memberikan motivasi kuat bagi banyak orang untuk belajar bahasa isyarat sebagai
bentuk inklusi sosial.
Berikut beberapa scene dan karakter penting dalam drama:
- Pada salah satu scene awal,
tokoh utama Ha Eun Gyeol (diperankan oleh Ryeoun) terlihat belajar bahasa
isyarat sejak kecil agar bisa berkomunikasi dengan orang tuanya dan
kakaknya yang tunarungu. Adegan ini memperlihatkan bagaimana bahasa
isyarat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, termasuk
berinteraksi dengan teman dan lingkungan.
- Scene emosional lainnya adalah
saat Ha Eun Gyeol berkomunikasi dengan ayahnya yang muda, Ha Yi Chan
(diperankan oleh Choi Hyun Wook). Mereka menggunakan bahasa isyarat untuk
saling mengerti meski berbeda zaman dan situasi, memperlihatkan pentingnya
bahasa isyarat sebagai penghubung rasa dan pikiran.
- Selain
itu, ada adegan yang menampilkan Yoon Chung Ah (putri konglomerat yang
tunarungu), yang menggunakan bahasa isyarat dalam interaksinya
sehari-hari, termasuk dalam situasi sosial dan kegiatan musik. Hal ini
memperkaya cerita dan menunjukkan variasi penggunaan bahasa isyarat.
Selain itu, dampak positif Twinkling Watermelon terlihat
dari meningkatnya minat masyarakat mencari sumber belajar bahasa isyarat,
mengikuti kelas online, hingga bergabung dengan komunitas tunarungu. Drama ini
tidak sekadar hiburan, tapi menjadi pintu gerbang bagi kesadaran akan
keberagaman bahasa dan budaya komunikasi. Dengan demikian, Twinkling
Watermelon sukses mengubah cara pandang banyak orang tentang bahasa isyarat dan
mendorong lebih banyak orang untuk mulai belajar dan menguasainya. Ini bukti
bahwa media hiburan bisa menjadi sarana edukasi efektif yang menginspirasi
perubahan positif dalam masyarakat.
Penulis : Syifa Kifayatus Sa’diyah
Dokumentasi : Viu, TvN