Akhir Pekan Ala Perantau
Mahasiswa perantau mulai membangun tradisi masak besar
setiap akhir pekan sebagai cara mengobati rasa rindu rumah sekaligus menghemat
pengeluaran harian. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara sederhana dengan
memanfaatkan dapur kos atau hunian bersama. Setiap mahasiswa membawa bahan
makanan yang mudah ditemukan dan terjangkau. Tradisi ini berkembang karena
banyak perantau merasa butuh suasana hangat layaknya makan bersama keluarga.
Masakan yang dibuat pun beragam, mulai dari olahan sayur, lauk rumahan, hingga
hidangan khas daerah masing-masing. Momen tersebut menjadi ruang berbagi
pengalaman sekaligus saling menguatkan. Selain itu, tradisi masak besar
membantu mahasiswa mengatur keuangan lebih baik dibanding membeli makanan
setiap hari. Kebersamaan yang tercipta membuat kegiatan ini semakin ditunggu.
Banyak mahasiswa merasa kegiatan ini memberi energi baru untuk menjalani minggu
berikutnya.
Dalam prosesnya, mahasiswa belajar membagi tugas mulai dari
menyiapkan bahan hingga meracik bumbu. Kegiatan ini mengajarkan kerja sama dan
saling peduli di tengah kesibukan kuliah. Setiap orang diberi kesempatan untuk
memasak menu andalan dari kampung halaman mereka. Hal ini membuat semua peserta
dapat merasakan cita rasa berbeda dari berbagai daerah. Selain memasak, mereka
juga belajar menyimpan bahan makanan dan mengatur porsi agar makanan cukup
untuk semua. Setelah masakan siap, mereka berkumpul sambil berbincang ringan
tentang aktivitas harian. Suasana hangat ini menciptakan rasa rumah yang sulit
ditemukan ketika hidup jauh dari keluarga. Beberapa mahasiswa mengaku bahwa
kegiatan ini membantu mereka menghadapi homesick. Tradisi ini pun perlahan
menjadi kegiatan rutin yang mempererat solidaritas antarperantau.
Kegiatan masak besar tidak hanya bermanfaat secara
emosional, tetapi juga memberi dampak positif pada kemampuan hidup mandiri.
Mahasiswa belajar mengelola anggaran, menentukan menu hemat, dan merancang
kebutuhan mingguan dengan lebih teratur. Tradisi ini juga memperkuat kebiasaan
hidup sehat karena mereka mulai terbiasa memasak makanan rumahan. Selain itu,
momen kebersamaan ini menjadi ruang aman untuk saling bercerita tentang tekanan
akademik maupun persoalan pribadi. Kebiasaan ini menumbuhkan rasa saling mendukung
yang penting bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga. Banyak yang
berharap kegiatan ini terus dipertahankan meski jadwal kuliah semakin padat.
Tradisi sederhana ini membuktikan bahwa dukungan antarperantau dapat tumbuh
dari aktivitas sehari-hari. Melalui masak besar, mereka belajar menghadapi
tantangan hidup mandiri dengan cara yang lebih hangat dan menyenangkan.
Inisiatif ini menjadi contoh bahwa solidaritas mampu menciptakan lingkungan
hidup yang lebih nyaman bagi mahasiswa perantau.
Penulis: Catalina Dinda Permata Revi