Antara Hati dan Otak: Situationship vs Studi
pgsd.fip.unesa.ac.id,
Surabaya - Di
dunia mahasiswa, pertemanan sering menjadi awal dari hal-hal yang tak terduga.
Awalnya, dia hanyalah teman biasa, teman sekelas, teman organisasi, atau teman
belajar. Tidak ada yang istimewa, hanya interaksi sehari-hari yang wajar.
Namun, seiring waktu, pertemuan yang sering membuatmu mulai memperhatikan
hal-hal kecil tentang dirinya: cara tertawanya, cara berbicara, atau perhatian
kecil yang ia tunjukkan. Tanpa sadar, rasa kagum mulai muncul.
Dari kagum itu, muncul perasaan yang
lebih kompleks. Kamu mulai menantikan setiap kesempatan untuk bertemu,
berbincang, atau bekerja sama. Hati mulai sibuk memikirkan dia, sementara otak
tahu bahwa tugas, deadline, dan studi tetap harus jadi prioritas. Di sinilah
dilema antara hati dan otak muncul.
Situationship sering muncul dalam
konteks seperti ini. Hubungan yang dekat tapi tidak jelas statusnya, membuat
hati merasa nyaman tapi juga bingung. Kamu ingin lebih dari sekadar teman, tapi
tidak ingin merusak hubungan pertemanan yang sudah terjalin lama. Sementara
itu, studi tetap menuntut perhatian dan fokus. Pesan singkatnya bisa membuatmu
tersenyum di kelas, tapi juga membuat konsentrasi belajar terganggu.
Efeknya bisa terasa nyata: jadwal
belajar berubah, malam-malam jadi lebih panjang karena terus memikirkan dia,
dan kadang produktivitas menurun. Namun, di sisi lain, perasaan itu membuat
hari-hari lebih hidup. Mahasiswa belajar menyeimbangkan antara prioritas
akademik dan emosi pribadi. Mereka belajar mengatur waktu, menjaga batasan, dan
memutuskan kapan harus fokus pada tugas, dan kapan boleh memberi ruang pada
hati.
Akhirnya, pengalaman ini mengajarkan
kedewasaan. Situationship yang muncul dari pertemanan bisa menjadi pelajaran
penting tentang komunikasi, pengelolaan perasaan, dan prioritas. Mahasiswa yang
bisa menyeimbangkan antara kagum pada teman dan fokus pada studi tidak hanya
lebih produktif, tapi juga lebih siap menghadapi hubungan dan dinamika
kehidupan di masa depan.
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus