Antara Mengajar atau Melanjutkan Studi: Kisah Galau Mahasiswa Pendidikan
Banyak mahasiswa merasa "bersalah" jika tidak langsung bekerja setelah lulus. Ada pula yang merasa S2 adalah kewajiban demi gengsi akademik. Padahal, kedua pilihan ini memiliki nilai yang sama pentingnya jika dijalani dengan sungguh-sungguh.
Mengajar memberikan pengalaman nyata di lapangan. Guru muda belajar langsung menghadapi siswa, kurikulum, serta dinamika sekolah. Sementara itu, melanjutkan studi memberi ruang refleksi, eksplorasi teori, dan kemampuan berpikir sistematis.
Kegalauan sering muncul karena kurangnya informasi. Mahasiswa hanya mendengar “katanya” dari teman atau media sosial, tanpa menggali sumber resmi. Padahal, banyak direktori pendidikan dapat diakses seperti Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) melalui https://pddikti.kemdikbud.go.id yang memuat data kampus, prodi, dan jenjang pendidikan.
Mahasiswa perlu memahami bahwa tidak semua orang harus menempuh jalur yang sama. Ada yang sukses setelah PPG, ada pula yang bersinar setelah S2. Yang terpenting adalah kesiapan mental dan perencanaan yang matang.
Daripada bertanya “mana yang lebih keren”, lebih baik bertanya “mana yang paling sesuai dengan saya”. Pendidikan bukan lomba cepat, melainkan perjalanan hidup.
Galau adalah fase manusiawi. Namun, keputusan tetap harus diambil dengan bijak, bukan karena ikut-ikutan.