Banyak Kegiatan, Minim Pembelajaran: Paradoks Dunia Pendidikan
Kata kunci: pembelajaran bermakna
pgsd.fip.unesa.ac.id – Dunia pendidikan saat ini kerap diwarnai oleh berbagai kegiatan di dalam dan luar kelas. Agenda sekolah yang padat sering dianggap sebagai indikator keaktifan dan kemajuan. Namun, di balik banyaknya kegiatan tersebut, muncul paradoks ketika proses pembelajaran justru menjadi minim dan kurang bermakna bagi peserta didik.
Beragam kegiatan seperti lomba, proyek, dan acara seremonial memang memiliki potensi positif jika dirancang dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Sayangnya, tidak semua kegiatan tersebut terintegrasi dengan kurikulum dan kebutuhan belajar siswa. Akibatnya, kegiatan menjadi rutinitas yang menghabiskan waktu tanpa memberikan pengalaman belajar yang mendalam.
Paradoks ini juga dirasakan oleh guru. Guru harus membagi perhatian antara mengajar dan mengelola berbagai kegiatan tambahan. Fokus pada perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran sering terganggu oleh tuntutan teknis dan administratif. Dalam kondisi ini, kualitas interaksi belajar mengajar di kelas berisiko menurun.
Bagi siswa, banyaknya kegiatan dapat menimbulkan kebingungan dan kelelahan. Waktu belajar efektif berkurang, sementara tuntutan mengikuti berbagai agenda terus meningkat. Pembelajaran yang seharusnya memberi ruang eksplorasi dan refleksi justru tergeser oleh aktivitas yang bersifat seremonial.
Pembelajaran bermakna menuntut perencanaan yang matang dan fokus pada tujuan belajar. Kegiatan yang dilaksanakan di sekolah seharusnya menjadi sarana pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses belajar itu sendiri. Integrasi kegiatan dengan pembelajaran menjadi kunci untuk menghindari paradoks ini.
Sekolah perlu melakukan evaluasi terhadap berbagai kegiatan yang dijalankan. Kegiatan yang tidak memberikan kontribusi nyata terhadap pembelajaran perlu dikaji ulang. Dengan penyederhanaan agenda, guru dan siswa dapat kembali memusatkan perhatian pada proses belajar yang berkualitas.
Secara keseluruhan, banyaknya kegiatan tidak menjamin terjadinya pembelajaran yang bermakna. Pendidikan yang efektif menuntut keseimbangan antara aktivitas dan kedalaman belajar. Dengan menempatkan pembelajaran sebagai inti, sekolah dapat menghindari paradoks dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.