Belajar Agama Lewat Praktik: Membumikan Nilai Iman di Sekolah Dasar
Kata kunci: pendidikan agama kontekstual
pgsd.fip.unesa.ac.id – Pembelajaran agama di sekolah dasar tidak cukup jika hanya disampaikan melalui hafalan dan ceramah semata. Anak-anak membutuhkan pengalaman langsung agar nilai-nilai iman benar-benar tertanam dalam diri mereka. Oleh karena itu, pembelajaran agama berbasis praktik menjadi pendekatan yang efektif untuk membumikan nilai keimanan sejak dini.
Belajar agama lewat praktik berarti siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika guru mengajarkan tentang kejujuran, siswa tidak hanya diminta menghafal definisi jujur, tetapi juga diarahkan untuk mempraktikkan sikap jujur dalam kegiatan kelas seperti mengerjakan tugas tanpa menyontek, mengembalikan barang yang bukan miliknya, dan berkata apa adanya.
Pendekatan ini membuat pembelajaran agama lebih hidup dan relevan. Anak-anak menyadari bahwa agama bukan hanya pelajaran di buku, melainkan pedoman hidup. Praktik ibadah sederhana seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar juga menjadi sarana pembiasaan yang bermakna.
Selain itu, pembelajaran berbasis praktik melatih siswa untuk bertanggung jawab dan mandiri. Mereka belajar bahwa nilai iman tidak berhenti di ruang kelas, tetapi harus diterapkan di rumah, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat. Guru berperan penting sebagai fasilitator dan teladan yang memberikan contoh nyata.
Dengan demikian, belajar agama lewat praktik membantu membentuk karakter siswa secara holistik. Anak tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi moral yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan.