BELAJAR ALA GENERASI ALPHA: POLA BARU DI ERA SERBA DIGITAL
Generasi Alpha adalah generasi yang lahir di tengah pesatnya perkembangan teknologi, sehingga sejak kecil mereka sudah terbiasa melihat gawai, internet, dan berbagai platform digital. Kondisi ini membuat mereka jauh lebih mudah mengakses informasi dibandingkan generasi sebelumnya. Tidak hanya itu, mereka juga tumbuh dalam lingkungan yang hampir semuanya terhubung dengan digital, mulai dari pendidikan, hiburan, hingga cara berkomunikasi. Karena paparan teknologi yang tinggi tersebut, cara berpikir mereka cenderung lebih kritis dan cepat dalam memproses informasi. Mereka bisa membandingkan berbagai sumber informasi secara mandiri karena semua tersedia hanya dalam hitungan detik. Namun, kebiasaan ini juga membuat mereka cenderung lebih selektif terhadap hal-hal yang dianggap tidak menarik atau tidak relevan. Di satu sisi, kemampuan mereka dalam menemukan informasi memang sangat membantu dalam proses belajar. Tetapi di sisi lain, penggunaan teknologi yang terlalu bebas tetap memerlukan perhatian dan pengawasan dari orang dewasa.
Dalam proses belajar, Generasi Alpha menunjukkan pola yang berbeda dari generasi sebelumnya yang lebih mengandalkan buku teks dan penjelasan langsung dari guru. Anak-anak di generasi ini lebih tertarik belajar melalui media visual seperti video, animasi, atau aplikasi interaktif. Mereka cenderung cepat bosan jika hanya diberi materi secara lisan tanpa adanya contoh nyata atau tampilan yang menarik. Di banyak sekolah, fenomena ini terlihat dari bagaimana siswa lebih semangat ketika pembelajaran menggunakan teknologi seperti proyektor, tablet, atau media digital lainnya. Selain itu, mereka juga lebih mudah menerima informasi jika disajikan dalam bentuk ringkas dan visual. Hal ini membuat guru maupun orang tua perlu menyesuaikan metode belajar agar lebih sesuai dengan pola pikir mereka. Namun, penggunaan teknologi bukan berarti harus selalu mengandalkan gawai secara penuh, karena pendampingan tetap diperlukan agar anak tidak hanya tertarik pada sisi hiburannya saja. Pada akhirnya, pemanfaatan media digital perlu dilakukan secara seimbang agar hasil belajar tetap maksimal.
Di lingkungan sekolah, generasi Alpha memang tumbuh dengan perangkat digital yang selalu ada di sekitar mereka sehingga teknologi terasa sangat dekat dalam aktivitas sehari-hari. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa seluruh proses belajar harus menggunakan media digital atau sepenuhnya mengandalkan perangkat layar. Pada kenyataannya, sebagian siswa justru dapat terdistraksi ketika media digital digunakan secara berlebihan atau tanpa pengawasan yang tepat. Banyak guru menemukan bahwa meskipun anak-anak terlihat mahir menggunakan gawai, mereka tetap membutuhkan bimbingan dalam mengatur fokus dan mengontrol penggunaan teknologi. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran perlu dilakukan secara seimbang agar tidak mengganggu konsentrasi belajar. Generasi Alpha masih membutuhkan variasi metode pembelajaran yang tidak hanya melibatkan layar, tetapi juga aktivitas langsung yang membantu mereka tetap aktif. Keseimbangan inilah yang membuat proses belajar menjadi lebih efektif dan tidak membuat teknologi menjadi sumber masalah baru. Teknologi tetap penting, tetapi bukan satu-satunya cara belajar bagi generasi Alpha.
Di lingkungan keluarga, penggunaan teknologi oleh Generasi Alpha perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak menimbulkan dampak negatif. Banyak orang tua yang memberikan gawai pada anak untuk memudahkan pengawasan atau menghibur mereka ketika sedang sibuk. Padahal, penggunaan gawai tanpa batas waktu bisa memengaruhi pola tidur, suasana hati, maupun kemampuan fokus anak. Orang tua sebaiknya menetapkan aturan penggunaan gawai yang jelas dan disesuaikan dengan usia anak. Selain itu, orang tua juga bisa mendampingi kegiatan digital mereka, seperti menonton video edukatif atau bermain permainan yang mendukung perkembangan kognitif. Dengan cara ini, teknologi tetap menjadi alat yang bermanfaat tanpa mengganggu perkembangan sosial anak. Orang tua juga dapat memberikan alternatif aktivitas seperti bermain di luar rumah atau membaca buku agar anak tidak terlalu bergantung pada gawai. Pendampingan yang seimbang dari keluarga akan membantu Generasi Alpha menggunakan teknologi dengan bijak.
Di sisi lain, lingkungan masyarakat dan perkembangan teknologi itu sendiri juga memberi pengaruh besar terhadap pola belajar Generasi Alpha. Kehadiran ruang publik yang ramah anak seperti perpustakaan interaktif, ruang baca digital, atau area bermain edukatif membantu mereka belajar dengan cara yang lebih menyenangkan. Selain itu, berbagai lembaga kini menyediakan pelatihan digital literacy untuk anak agar mereka bisa mengenali informasi yang benar dan menghindari konten berbahaya. Masyarakat juga mulai memahami bahwa anak tidak bisa dilepas begitu saja saat menggunakan internet. Oleh karena itu, banyak kampanye mengenai keamanan digital bagi anak disosialisasikan melalui sekolah maupun media. Teknologi yang terus berkembang cepat sebenarnya dapat menjadi peluang besar jika digunakan dengan tepat. Namun, tanpa pengawasan, risiko seperti kecanduan gawai atau paparan konten yang tidak sesuai usia bisa muncul. Dengan kerja sama keluarga, sekolah, dan masyarakat, Generasi Alpha dapat memanfaatkan teknologi untuk belajar dengan cara yang lebih modern namun tetap aman. Pada akhirnya, pola belajar generasi ini akan terus berkembang seiring perubahan zaman, tetapi nilai pengawasan dan pendampingan tetap menjadi hal yang tidak boleh ditinggalkan.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari