Berhenti Membandingkan Diri di Media Sosial
pgsd.fip.unesa.ac.id – Media sosial sering kali berubah menjadi panggung sandiwara di mana setiap orang hanya menampilkan "cuplikan terbaik" dan pencapaian gemilang mereka, yang tanpa sadar sering kita jadikan tolak ukur kesuksesan pribadi. Saat kita membuka beranda dan melihat teman seangkatan sudah mendapatkan beasiswa bergengsi, magang di perusahaan besar, atau memiliki gaya hidup yang tampak sangat sempurna, muncul rasa cemas dan perasaan tertinggal yang menghimpit. Kita sering lupa bahwa apa yang terpampang di layar hanyalah sebagian kecil dari realitas yang jauh lebih kompleks, yang biasanya menyembunyikan ribuan kegagalan, tangis, dan perjuangan keras di balik layar yang tidak pernah mereka posting. Membandingkan "halaman belakang" hidup kita yang berantakan dengan "halaman depan" orang lain yang sudah ditata rapi adalah ketidakadilan terhadap diri sendiri yang hanya akan menguras energi serta membunuh rasa percaya diri secara perlahan.
Berhenti membandingkan pencapaian diri harus dimulai dengan kesadaran penuh bahwa setiap individu memiliki garis waktu, tantangan, dan jalur kesuksesan yang sama sekali berbeda. Fokus yang terlalu besar pada kehidupan orang lain akan membuat kita kehilangan arah dan mengabaikan potensi unik yang sebenarnya sedang tumbuh dalam diri kita sendiri. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kurasi pada konten yang kita konsumsi, berani untuk berhenti mengikuti akun yang memicu rasa minder dan mulai mengikuti sumber inspirasi yang memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang paling cepat sampai ke puncak, melainkan tentang seberapa jauh kita telah melangkah maju dibandingkan dengan versi diri kita yang kemarin, meskipun langkah itu terasa lambat namun tetap konsisten.
Dengan melepaskan tekanan untuk selalu terlihat sukses di mata orang lain, kita akan menemukan ketenangan yang luar biasa untuk menikmati setiap tahapan proses belajar yang sedang dijalani. Alihkan perhatian dari layar ponsel kembali ke dunia nyata, dan mulailah merayakan keunikan perjalanan hidup sendiri dengan rasa syukur yang lebih besar. Menghargai proses yang lambat namun pasti jauh lebih berharga daripada mendapatkan pengakuan instan namun semu di dunia digital. Pada akhirnya, kedamaian batin akan tercipta ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri, menerima bahwa setiap orang memiliki musimnya masing-masing untuk bersinar, dan menyadari bahwa kesuksesan orang lain bukanlah ancaman bagi masa depan kita.
Penulis: Elis