Cara Menenangkan Diri Saat Semua Terasa Berat
Ada masa di mana semuanya terasa serba salah. Tugas datang bersamaan, waktu istirahat hampir tidak ada, dan lingkungan justru menambah kekesalan. Saya pernah berada di fase itu fase ketika emosi rasanya mau meledak, tapi tetap harus mengerjakan kewajiban yang tidak bisa ditunda. Saya masih ingat satu hari yang benar-benar kacau. Sejak pagi suasana hati ribut, tugas kuliah menumpuk, dan chat dari kelompok justru membuat kepala saya tambah penuh. Ada yang seenaknya titip tugas, ada yang hilang tanpa kabar, dan ada juga yang memberi komentar pedas tanpa mikir panjang. Belum lagi deadline yang tinggal beberapa jam, membuat saya semakin gelisah.
Di tengah kekacauan itu, saya sempat berhenti sejenak. Napas saya pendek, hati panas, pikiran kusut. Tapi dari situ saya sadar bahwa marah-marah tidak akan membuat tugas selesai. Maka, saya mencoba beberapa cara yang akhirnya membantu saya bertahan. Pertama, saya belajar mengakui perasaan sendiri. Kadang kita pura-pura kuat, padahal kepala sudah mau pecah. Saya mulai membiasakan diri untuk jujur pada diri sendiri: “Aku lagi capek. Aku lagi jengkel.” Itu membuat hati sedikit lebih ringan. Kedua, saya ambil jeda. Tidak lama, hanya beberapa menit. Saya berdiri, menarik napas dalam-dalam, atau sekadar minum air. Ternyata hal sederhana itu bisa menurunkan emosi yang semula panas. Ketiga, saya mengatur ulang prioritas. Saat semuanya terasa penting, saya duduk sebentar dan menulis mana yang betul-betul harus selesai hari itu. Banyak hal ternyata hanya terlihat seolah-olah mendesak, padahal bisa menunggu. Keempat, saya menjaga jarak dari hal-hal atau orang-orang yang membuat mental semakin sumpek. Tidak semua harus ditanggapi saat itu juga. Kadang diam lebih menenangkan daripada membalas pesan dengan kepala panas.
Kelima, saya mencari cara untuk meluapkan emosi dengan aman. Menangis sebentar, menulis unek-unek di notes, atau cerita ke teman dekat. Setelah itu, tekanan di dada berkurang dan pikiran lebih jernih. Dan satu hal yang paling penting, saya belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa saya kontrol. Saya tidak bisa memaksa orang lain untuk peduli atau bertanggung jawab. Saya tidak bisa meminta lingkungan mendadak menjadi hening. Yang bisa saya kendalikan hanya sikap saya terhadap situasi itu.
Pada akhirnya, mengelola emosi bukan soal menjadi orang yang selalu tenang. Bukan soal menghilangkan marah. Justru marah itu wajar. Tapi saya belajar bahwa kita bisa memilih bagaimana menanganinya. Kita bisa memberi diri sendiri ruang untuk berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan langkah tanpa kehilangan kendali. Dan dari situ, saya sadar bahwa kita tidak harus kuat setiap saat kita hanya perlu belajar mengenali diri sendiri dan memberi waktu untuk pulih sebelum melanjutkan semuanya lagi.
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus