Cara Menghadapi Anak yang Mengalami Separation Anxiety di Kelas 1 SD
pgsd.fip.unesa.ac.id – Memasuki jenjang pendidikan dasar kelas satu sering kali menjadi tantangan emosional tersendiri bagi anak-anak yang belum terbiasa berpisah dari orang tua. Kecemasan akan perpisahan atau separation anxiety adalah reaksi yang wajar muncul saat anak berada di lingkungan baru yang belum mereka kenal. Gejala ini biasanya ditandai dengan tangisan, penolakan untuk masuk ke ruangan, hingga keluhan fisik seperti sakit perut atau pusing. Hal ini terjadi karena anak merasa kehilangan rasa aman yang selama ini mereka dapatkan sepenuhnya dari kehadiran orang tua. Diperlukan pendekatan yang sangat lembut dan penuh empati untuk membantu anak beradaptasi dengan rutinitas baru di lingkungan mereka. Memahami bahwa perasaan cemas tersebut adalah hal yang nyata bagi anak merupakan langkah awal yang sangat krusial. Penanganan yang salah atau terlalu keras justru dapat meninggalkan trauma jangka panjang pada persepsi anak mengenai proses belajar. Fokus utama harus diarahkan pada pembangunan rasa percaya anak terhadap lingkungan baru dan orang-orang dewasa di sekitarnya.
Langkah pertama yang efektif adalah dengan menciptakan rutinitas perpisahan yang singkat, konsisten, namun tetap memberikan kehangatan serta rasa tenang kepada anak. Orang tua sebaiknya tidak pergi secara diam-diam karena hal tersebut akan memicu rasa tidak percaya dan kecemasan yang lebih dalam. Sebaliknya, sampaikan ucapan pamit dengan senyuman dan janji yang pasti mengenai kapan waktu untuk menjemput mereka kembali nanti. Durasi perpisahan yang diperpendek secara bertahap akan membantu anak menyadari bahwa perpisahan tersebut hanyalah bersifat sementara dan aman. Memberikan benda kecil dari rumah yang akrab bagi anak dapat berfungsi sebagai benda transisi yang memberikan rasa nyaman. Benda tersebut bertindak sebagai pengingat akan kehadiran rumah dan orang tua selama mereka beraktivitas di dalam ruangan. Penting bagi semua pihak untuk tetap bersikap tenang karena anak-anak sangat peka terhadap kegelisahan yang dirasakan oleh orang dewasa. Konsistensi dalam menjalankan jadwal harian akan memberikan rasa prediktabilitas yang sangat dibutuhkan untuk menurunkan tingkat stres pada anak.
Lingkungan yang mendukung harus diciptakan sedemikian rupa agar anak merasa bahwa tempat tersebut adalah zona yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Penyambutan yang hangat di pagi hari dengan sapaan ramah dapat membantu mengalihkan fokus anak dari rasa sedih menuju rasa penasaran. Mengalihkan perhatian anak melalui aktivitas menarik seperti menggambar atau bermain balok segera setelah tiba adalah teknik yang sangat efektif. Anak-anak perlu diberikan waktu untuk mengamati lingkungan sekitar sampai mereka merasa cukup berani untuk ikut bergabung dalam kegiatan. Memuji setiap keberanian kecil yang ditunjukkan anak saat berhasil masuk ke ruangan akan memperkuat perilaku positif dan rasa percaya diri. Jangan pernah membandingkan ketakutan mereka dengan keberanian teman-teman lainnya karena setiap anak memiliki kecepatan adaptasi yang berbeda. Komunikasi yang terbuka antara pihak-pihak terkait sangat diperlukan untuk memantau perkembangan emosional anak dari waktu ke waktu. Kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi fase transisi yang penuh tantangan ini agar anak tetap merasa dicintai.
Strategi pendampingan juga dapat dilakukan dengan mengenalkan lingkungan baru tersebut secara bertahap sebelum hari pertama kegiatan belajar dimulai secara resmi. Mengajak anak melihat-lihat ruangan atau area bermain dapat mengurangi rasa asing yang sering kali menjadi pemicu utama kecemasan berlebih. Ceritakan hal-hal positif mengenai aktivitas seru yang akan mereka lakukan agar muncul rasa antusiasme di dalam diri anak. Peran pendamping di lokasi sangat vital untuk membangun ikatan emosional awal agar anak merasa memiliki pelindung baru selain orang tua. Berikan tugas-tugas ringan yang membuat anak merasa dibutuhkan dan memiliki peran penting di dalam lingkungan barunya tersebut. Ketika anak merasa memiliki kontrol atau tanggung jawab, rasa cemas biasanya akan berkurang karena fokus mereka teralihkan pada tugas. Pastikan lingkungan fisik juga tertata dengan rapi dan menarik secara visual untuk memberikan kesan yang ceria dan aman. Penyesuaian ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun hasilnya akan sangat bermanfaat bagi kemandirian anak kelak.
Pada akhirnya, kunci keberhasilan mengatasi kecemasan perpisahan terletak pada kerja sama yang harmonis dan penuh pengertian dari semua orang dewasa. Hindari memberikan tekanan berlebih atau memaksa anak untuk segera berhenti menangis tanpa memberikan validasi terhadap perasaan emosional mereka. Proses adaptasi ini adalah bagian dari perjalanan pendewasaan anak dalam membangun ketahanan mental dan kemampuan bersosialisasi di dunia luar. Semakin anak merasa didukung dan dipahami, semakin cepat mereka akan melepaskan ketergantungan berlebih dan mulai menikmati masa kecilnya. Setiap tangisan yang mereda adalah tanda bahwa anak mulai merasa nyaman dengan otoritas baru dan lingkungan sosial yang ada. Jangan ragu untuk mencari informasi tambahan mengenai psikologi perkembangan anak jika kendala ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama. Dengan kasih sayang yang tulus dan pendekatan yang tepat, masa-masa awal di kelas satu akan menjadi kenangan yang indah. Anak yang tangguh adalah hasil dari bimbingan yang penuh kesabaran dan strategi yang berorientasi pada kesejahteraan mental mereka.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google