Cerita Pendek: Surabaya, Kita, dan Segala yang Pernah Ada
pgsd.fip.unesa.ac.id Surabaya — “My love was as cruel as
the cities I lived in…” Lagu Daylight dari Taylor Swift mengalun lembut
di telingaku. Duduk termenung di depan swalayan, kulihat kendaraan
berlalu-lalang. Surabaya terasa bising, panas, dan terlalu sibuk. Rasanya tidak
percaya sudah setahun berlalu sejak aku kembali ke kota kelahiranku ini.
Setahun pula aku mencoba berdamai dengan hiruk-pikuknya, tapi hasilnya selalu
sama: gagal. Kota ini belum pernah benar-benar jadi rumah, tidak seperti kota
sebelumnya—tempatku tumbuh bersama nenek, bibi, paman, dan sepupu-sepupuku.
Aku baru naik ke kelas 8 waktu itu. Sekolah seperti tempat
asing yang tak pernah mengundang semangat. Teman hanya sedikit, dan saat
pelajaran PJOK—yang paling kubenci—aku selalu sengaja absen. Satu-satunya yang
kutunggu adalah waktu pulang sekolah, saat aku bisa menyusuri jalanan bersama
Anchika, sahabatku. Kami menjelajah jajanan kaki lima, tertawa di bawah
matahari Surabaya, dan merayakan kebahagiaan kecil: tahu bulat, es cekek,
otak-otak absurd, pekan minggu di masjid agung, atau sekadar duduk santai di toko
kelontong.
Lalu aku dan Anchika lulus. Usia 15, diterima di SMA favorit
yang tak kusangka justru sekolah yang sering kami lewati dulu saat bertualang.
Sayangnya, tanpa Anchika. Kami berpisah sekolah.
“Yaa gapapa Ly,” katanya sambil tertawa dan berusaha
menyembunyikan sedih. “Mungkin ini jawaban dari doa-doa kita berdua. Kita pasti
bakal nemuin hal yang bisa kita syukuri.”
Aku mengangguk, menyimpan doanya dalam hati.
Masa orientasi SMA terasa aneh tapi hangat. Di sanalah aku
bertemu Rashilla, pecinta K-Pop yang ternyata cocok denganku. Kami langsung klik.
Saat pengumuman kelas keluar, doa kami terkabul: satu kelas dan satu bangku.
Tak lama, kami kenal Alesha dan Sava, yang unik dan seru dalam cara mereka
sendiri. Kami membentuk grup kecil bernama “MAPIA”. Persahabatan kami mengalir
seperti musik dari 5SOS yang sering kudengar: ringan, penuh semangat, dan bikin
lupa waktu.
Waktu terus melaju. Kota Surabaya masih terasa bising dan
asing, apalagi kini aku lebih sering pulang cepat dan tidak punya kawan petualangan
lagi. Tapi perlahan aku mulai belajar menikmati kesendirian: dari es cincau
segar di ujung jalan rumah sampai ayam geprek pedas yang jadi pelipur lara
setiap Sabtu. Surabaya mulai terasa seperti kota yang diam-diam mencoba
merayuku.
Lalu datang Arhan.
“Rashilla, itu siapa sih yang duduk di belakang, pakai
earphone, lagi ngerjain tugas?” tanyaku, berpura-pura santai.
“Ohhh, itu ta? Namanya Arhan,” jawabnya. Lalu dengan senyum nakal menambahkan,
“Kamu suka yaa~”
“Enggak ya!” bantahku cepat, walau aku
tahu, dari caraku bertanya saja sudah cukup jelas.
Aku pertama kali melihatnya saat ia duduk tenang di belakang
kelas dengan earphone di telinga. Waktu itu aku hanya diam-diam tertarik,
memperhatikannya dari jauh. Tapi siapa sangka waktu membuat kami makin dekat.
Proyek kelompok, obrolan ringan, lalu tawa-tawa kecil—semuanya membentuk simpul
yang tak kusadari tumbuh jadi rasa.
Kami menjelajah Surabaya bersama. Royal Plaza jadi tempat
andalan—makan jamur crispy dan teh Gopek, mampir ke Gramedia, lalu lihat-lihat
Hotwheels karena Arhan selalu punya alasan untuk tersenyum di depan rak itu.
Kami menonton film pertamaku di bioskop: John Wick 4 di Lenmarc. Aku
masih ingat komentarku: “Dia kucing apa ya, enggak mati-mati.” Kami tertawa,
merasa dunia begitu ringan waktu itu.
Museum Pendidikan, Perpustakaan Balai Kota, Taman Bungkul,
sampai Suramadu—semua jadi latar perjalanan kami. Di setiap sudut kota, aku
menemukan bagian dari Arhan. Dan dalam Arhan, aku menemukan kehangatan yang
membuat Surabaya terasa lebih manusiawi. Seperti ia adalah cahaya kecil yang
membimbingku menyusuri kota yang dulu membuatku merasa hilang.
Aku ingat sore itu, kami berboncengan sambil menyanyikan
lagu “Celengan Rindu”. Di tengah lalu lintas kota, Arhan adalah jeda, adalah
pelindung. Dan Surabaya, yang dulu hanya bising dan sesak, kini menjadi tempat
yang kusayangi.
Lagu favorit kami adalah “Duka” dari Last Child. Kami putar
saat belajar bersama, atau sekadar diam berdampingan. Lagu itu seperti kapsul
kenangan—tentang momen-momen krusial menjelang ujian masuk kuliah, saat kami
saling menyemangati, saling percaya, saling kuat.
Tapi waktu berjalan. Dan kini, saat aku menulis ini, aku dan
Arhan hanyalah dua orang asing.
Kami duduk di semester dua bangku kuliah, tak lagi menyapa,
tak lagi berbagi lagu atau rencana. Tapi aku tahu, perjalanan bersamanya adalah
salah satu bagian paling hangat dalam hidupku. Kami tertawa di saat paling
rawan, tumbuh bersama di usia remaja yang tak stabil, dan mencintai dalam versi
terbaik yang bisa kami beri saat itu. Tak pernah kubayangkan lagu favorit kami
menjadi lagu yang paling mengerti kondisi kami.
Surabaya tetaplah kota yang ramai, keras, kadang membuatku
ingin lari. Tapi di dalamnya, aku pernah punya banyak alasan untuk bertahan.
Arhan, salah satunya.
Kini semua itu tinggal kenangan. Tapi tak apa. Beberapa hal
memang hadir untuk tidak menetap. Dan aku bersyukur, pernah punya dia—walau
hanya sementara.
Penulis: Zahira Auliya Soekandar (PGSD)
Dokumentasi: Zahira Auliya Soekandar