COMPARISON CULTURE: SAAT HIDUP TERASA SEPERTI LOMBA YANG TAK PERNAH USAI
Banyak dari kita sering merasa hidup seperti perlombaan yang tidak ada garis akhirnya. Ketika melihat orang lain terlihat lebih sukses, pikiran kita langsung membandingkan posisi diri dengan mereka. Perasaan seperti ini muncul secara alami karena manusia cenderung ingin mengetahui apakah dirinya sudah berada di jalur yang tepat. Namun, jika dilakukan terus-menerus, comparison culture dapat menimbulkan tekanan yang tidak sehat. Kita mulai memikirkan kekurangan diri tanpa melihat kelebihan yang sebenarnya dimiliki. Hal seperti ini justru membuat rasa percaya diri menurun sedikit demi sedikit. Bahkan, beberapa orang bisa merasa tidak berharga meskipun sebenarnya mereka sudah berusaha keras. Karena itu, memahami dampak comparison culture menjadi langkah penting agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran tersebut.
Comparison culture biasanya terbentuk karena kebiasaan melihat pencapaian orang lain melalui media sosial. Banyak orang hanya menampilkan sisi terbaik dari hidup mereka, sehingga terlihat lebih sempurna dari kenyataannya. Sayangnya, kita sering lupa bahwa yang ditampilkan hanyalah potongan momen yang ingin mereka tunjukkan. Hal ini membuat kita merasa kehidupan kita kurang menarik dibandingkan dengan orang lain. Perasaan tidak puas pun mulai muncul meskipun kita sebenarnya tidak tahu keseluruhan perjalanan mereka. Dalam situasi seperti itu, kita mudah menganggap diri sendiri tertinggal tanpa alasan yang jelas. Perlahan, tekanan emosional mulai terbentuk dan bisa mengganggu kenyamanan diri. Jika hal ini terus dibiarkan, comparison culture dapat berdampak pada kesehatan mental dan motivasi hidup.
Perbandingan yang berlebihan dapat menimbulkan rasa iri yang sulit dikendalikan. Rasa iri muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dalam hal pencapaian atau kehidupan pribadi. Tanpa disadari, kita mulai mengkritik diri sendiri dengan standar yang tidak realistis. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, peluang, dan proses yang berbeda-beda. Kebiasaan melihat kekurangan diri dapat membuat seseorang kehilangan rasa syukur. Selain itu, comparison culture membuat kita sulit menghargai usaha kecil yang sebenarnya penting bagi perkembangan diri. Ketika rasa iri mengambil alih pikiran, hubungan sosial pun dapat ikut terganggu. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa perjalanan setiap orang tidak dapat disamakan begitu saja.
Untuk mengatasi comparison culture, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri untuk melihat hal positif dalam hidup sendiri. Dengan menyadari apa yang sudah kita capai, perasaan kurang tersebut akan perlahan berkurang. Selain itu, melatih diri untuk fokus pada proses bukan hanya hasil dapat membantu menumbuhkan kepuasan diri. Banyak orang lupa bahwa keberhasilan tidak selalu terlihat dalam bentuk besar. Ketika kita menilai diri berdasarkan proses, rasa percaya diri dapat berkembang lebih stabil. Kita juga bisa mencoba mengurangi waktu mengakses media sosial jika itu menjadi pemicu utama perbandingan. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari informasi tentang pencapaian orang lain bisa membantu pikiran lebih tenang. Dengan langkah kecil seperti ini, comparison culture dapat dikendalikan secara bertahap.
Selain introspeksi diri, memiliki pandangan yang lebih luas juga dapat membantu kita menghindari comparison culture. Kita perlu menyadari bahwa orang lain juga memiliki tantangan hidup yang mungkin tidak terlihat dari luar. Bisa saja seseorang tampak sukses, tetapi memiliki perjuangan yang berat di baliknya. Hal ini membuat kita memahami bahwa kehidupan tidak selalu seperti yang terlihat. Ketika kita mulai melihat dunia dengan lebih realistis, rasa iri perlahan berubah menjadi motivasi yang sehat. Kita juga bisa belajar menghargai diri sendiri dengan memberikan apresiasi pada setiap perkembangan kecil. Dengan begitu, kita tidak merasa harus berkompetisi dalam setiap hal yang dilakukan. Pada akhirnya, menerima diri apa adanya adalah kunci untuk hidup lebih tenang tanpa merasa terkejar oleh pencapaian orang lain.
Penulis: Shinta Aulya Fahkruz Komari