Dampak Kekurangan Guru SD terhadap Kualitas Pendidikan Dasar
Kekurangan guru sekolah dasar menjadi salah satu persoalan serius yang memengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia. Di banyak daerah, khususnya wilayah terpencil, rasio guru dan murid sangat timpang. Satu guru harus menangani puluhan hingga lebih dari empat puluh siswa dalam satu kelas. Kondisi ini tidak hanya melemahkan proses pembelajaran, tetapi juga berpengaruh langsung pada pengalaman belajar anak dan hasil akademik jangka panjang mereka.
Salah satu dampak utama dari kekurangan guru adalah berkurangnya perhatian individual kepada siswa. Anak sekolah dasar berada pada fase ketika bimbingan personal sangat penting, terutama dalam hal membaca, menulis, dan berhitung. Ketika jumlah murid terlalu banyak, guru tidak mungkin memberikan pendampingan optimal. Akibatnya, kemampuan dasar anak berkembang tidak merata. Siswa yang membutuhkan perhatian lebih sering tertinggal, sementara yang cepat menangkap pelajaran tidak memperoleh tantangan yang sesuai.
Selain itu, kekurangan guru menyebabkan kualitas interaksi di kelas menurun. Guru SD bukan hanya mengajar materi, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan belajar. Kelas yang terlalu besar membuat guru kesulitan mengelola perilaku siswa, mengatur dinamika kelas, dan memastikan suasana belajar kondusif. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan motivasi belajar siswa dan melemahkan kedisiplinan kelas.
Pekerjaan administratif guru juga semakin berat ketika jumlah murid berlebihan. Guru harus memeriksa lebih banyak tugas, membuat lebih banyak laporan, dan menangani lebih banyak persoalan murid. Beban yang tinggi ini membuat guru kelelahan dan berdampak pada efektivitas mengajar. Guru yang seharusnya fokus pada inovasi pembelajaran malah tersita waktunya untuk mengurus administrasi kelas yang menumpuk.
Dari sisi sekolah, kekurangan guru menghambat implementasi kurikulum secara utuh. Pembelajaran berbasis projek, diferensiasi, serta kegiatan literasi-numerasi membutuhkan waktu, tenaga, dan pembagian tugas yang seimbang. Jika guru terlalu sedikit, kegiatan ini tidak dapat berjalan optimal. Bahkan ada sekolah yang terpaksa menggabungkan kelas—praktik darurat yang tentu menurunkan mutu pembelajaran.
Dampak lebih luas terlihat pada penurunan kualitas pendidikan dasar secara nasional. Sekolah dasar adalah pondasi seluruh jenjang pendidikan. Ketika fondasinya rapuh, maka jenjang berikutnya akan menanggung akibatnya. Siswa yang tidak menguasai kemampuan dasar akan kesulitan mengikuti pelajaran di tingkat lebih tinggi, berpotensi mengalami learning loss, dan kehilangan motivasi belajar.
Kekurangan guru SD adalah isu yang harus ditangani melalui kebijakan strategis—mulai dari pemerataan distribusi guru, rekrutmen guru baru, hingga peningkatan kesejahteraan bagi mereka yang bertugas di daerah terpencil. Tanpa upaya serius, kesenjangan kualitas pendidikan akan semakin melebar dan masa depan anak-anak Indonesia akan terpengaruh. Guru SD adalah tulang punggung pendidikan dasar, sehingga ketersediaan mereka adalah syarat mutlak bagi pendidikan yang berkualitas.