Design Thinking for Teachers: Canva as a Strategic Tool for Elementary Education Reform
Pemanfaatan Canva dalam pendidikan guru sekolah dasar kini mulai dipandang sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang lebih luas. Platform desain ini memungkinkan calon guru menerapkan prinsip design thinking dalam setiap proses penyusunan media pembelajaran. Guru diajak untuk melakukan analisis kebutuhan siswa, menentukan tujuan, menciptakan prototipe visual, dan menguji efektivitasnya secara langsung dalam konteks kelas. Proses tersebut mendukung lahirnya generasi guru yang kreatif, adaptif, dan berbasis pemecahan masalah. Dengan demikian, Canva menjadi alat penting untuk membangun pola pikir inovatif sejak mahasiswa PGSD masih dalam tahap awal pendidikan. Ini menggeser paradigma lama yang menganggap guru cukup menjadi penyampai materi tanpa unsur kreativitas. Canva akhirnya menjadi simbol bagaimana guru masa depan harus bekerja: analitis, kreatif, dan berorientasi solusi.
Penggunaan Canva dalam perkuliahan juga menciptakan kesempatan untuk memperdalam literasi teknologi mahasiswa PGSD. Mereka tidak hanya belajar menggunakan fitur-fitur dasar, tetapi juga mengembangkan keterampilan kompleks seperti memadukan elemen visual dengan narasi pedagogis. Proses pengambilan keputusan terkait pilihan warna, ikon, dan struktur layout melatih kepekaan calon guru terhadap kebutuhan kognitif siswa. Canva membantu mahasiswa memahami bagaimana visual dapat menuntun alur berpikir siswa secara sistematis. Hal ini penting karena siswa sekolah dasar membutuhkan struktur informasi yang jelas dan tidak bertele-tele. Dengan demikian, Canva memfasilitasi transformasi cara guru memahami hubungan antara materi dan representasi visual. Ini menjadikan calon guru lebih matang dalam merancang pembelajaran berbasis bukti dan kebutuhan nyata siswa.
Canva juga memfasilitasi penciptaan media pembelajaran lintas disiplin yang semakin banyak diadopsi dalam kurikulum sekolah dasar. Guru dapat merancang media yang menggabungkan konsep IPAS, matematika, bahasa Indonesia, hingga seni budaya dalam satu desain terpadu. Integrasi ini sangat penting untuk membangun keterhubungan antar konsep, terutama bagi siswa kelas rendah yang belajar secara holistik. Dengan Canva, guru dapat membuat peta konsep tematik atau visualisasi eksperimen sederhana yang membantu siswa memahami keterkaitan antar fenomena. Selain itu, Canva mendukung penggunaan aset budaya lokal yang dapat memperkaya pembelajaran berbasis kearifan lokal. Guru dapat memasukkan simbol-simbol daerah atau ilustrasi tradisional untuk meningkatkan konteks pembelajaran bagi siswa. Ini menjadi bukti bahwa Canva tidak hanya memodernisasi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai lokal dalam pendidikan.
Dalam praktik di kelas, Canva terbukti membantu guru meningkatkan engagement siswa melalui penggunaan visual yang dinamis dan representatif. Siswa SD cenderung merespon lebih positif terhadap media yang penuh warna, memiliki ilustrasi menarik, dan menyajikan informasi dalam potongan kecil yang mudah dipahami. Guru dapat membuat lembar aktivitas dengan ikon sederhana yang memandu langkah-langkah pengerjaan secara jelas. Penggunaan infografis dan ilustrasi juga mempermudah siswa memahami topik abstrak seperti siklus air, tumbuhan, atau nilai tempat bilangan. Media yang dibuat dengan Canva dapat meningkatkan perhatian siswa dan meminimalkan distraksi karena tampilannya dirancang dengan kontras dan struktur yang baik. Guru juga dapat menyesuaikan media untuk kelas besar maupun kelas kecil agar kegiatan tetap efektif. Hal ini menjadikan Canva sebagai alat yang fleksibel dan konsisten mendukung kualitas pembelajaran.
Meskipun Canva menawarkan banyak keunggulan, tantangan tetap muncul terutama terkait kemampuan guru menilai efektivitas media secara objektif. Tidak semua visual yang menarik efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa, sehingga guru perlu memiliki kemampuan analisis media yang baik. Institusi PGSD harus memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya terampil membuat desain, tetapi juga memahami teori beban kognitif, prinsip multimedia Mayer, dan desain universal untuk pembelajaran. Selain itu, guru harus belajar membuat keputusan kritis terkait kapan menggunakan visual dan kapan harus menyederhanakan tampilan agar siswa tidak kewalahan. Pelatihan evaluasi media harus menjadi bagian dari perkuliahan inti agar kompetensi ini terbawa hingga ke ruang kelas nyata. Dengan pendekatan komprehensif tersebut, Canva dapat menjadi bagian dari reformasi pendidikan dasar yang berkelanjutan. Peran guru sebagai perancang pembelajaran akan semakin kuat seiring meningkatnya kualitas media yang mereka hasilkan.
Penulis: Putri Arina Hidayati