Fenomena Self-Reward: Apakah Benar Membantu Kesehatan Mental?
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-reward menjadi tren yang banyak dibicarakan, terutama di media sosial. Banyak orang membagikan kebiasaan memberi hadiah pada diri sendiri setelah mencapai target tertentu, mulai dari membeli makanan favorit, jalan-jalan singkat, hingga membeli barang impian. Fenomena ini berkembang sebagai bentuk self-care modern. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah self-reward benar-benar bermanfaat bagi kesehatan mental, atau justru bisa menjadi kebiasaan yang salah kaprah?
Apa Itu Self-Reward?
Self-reward adalah tindakan memberikan hadiah pada diri sendiri sebagai bentuk apresiasi setelah berhasil menyelesaikan tugas, mencapai target, atau menghadapi situasi yang berat. Secara psikologis, konsep ini berkaitan dengan sistem penghargaan dalam otak, di mana aktivitas menyenangkan dapat memicu pelepasan dopamin, hormon yang memberikan rasa senang dan puas. Dalam konteks tertentu, self-reward dapat menjadi motivasi positif untuk mempertahankan kebiasaan baik, seperti belajar, bekerja keras, atau menjaga konsistensi dalam aktivitas tertentu.
Manfaat Self-Reward bagi Kesehatan Mental
Meningkatkan Motivasi, penghargaan kecil setelah menyelesaikan tugas dapat memperkuat perilaku positif. Seseorang lebih termotivasi untuk mengulang tindakan yang membuat mereka bangga dan senang.
Mengurangi Stres, memberi jeda untuk menikmati hal-hal yang disukai dapat membantu menurunkan tekanan, apalagi setelah hari yang melelahkan.
Membangun Hubungan Baik dengan Diri Sendiri, Self-reward dapat membantu seseorang lebih menghargai usaha dirinya sendiri, terutama bagi mereka yang mudah merasa belum cukup atau sering mengkritisi diri.
Mendorong Perilaku Produktif, pada beberapa orang, self-reward efektif untuk membangun kebiasaan produktif, misalnya belajar rutin, menabung, atau menjaga pola hidup sehat.
Risiko Self-Reward Jika Dilakukan Tanpa Kontrol
Meski memiliki banyak sisi positif, self-reward juga dapat berdampak buruk jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa kesadaran.
1. Konsumtif Berlebihan
Banyak orang menyamakan self-reward dengan belanja impulsif. Padahal, tindakan ini justru bisa memicu stres finansial dan penyesalan.
2. Bergantung pada Hadiah Eksternal
Jika seseorang hanya termotivasi ketika ada hadiah, maka motivasi intrinsiknya bisa menurun. Ia menjadi lebih sulit melakukan hal baik tanpa “imbalan”.
3. Mengabaikan Esensi Usaha
Beberapa orang memberi self-reward bahkan ketika tidak ada target yang benar-benar dicapai, sehingga reward menjadi tidak bermakna.
4. Menjadi Alasan untuk Menghindar
Ada kalanya self-reward dipakai sebagai alasan untuk menunda pekerjaan (“Aku capek, jadi aku harus self-reward dulu”), yang akhirnya menimbulkan rasa bersalah dan menumpuk stres.
Bagaimana Self-Reward yang Sehat?
Agar benar-benar berdampak positif, self-reward sebaiknya dilakukan dengan bijak.
Tetapkan target yang jelas sebelum memberi hadiah.
Pilih reward yang tidak membahayakan keuangan atau kesehatan.
Gunakan reward sebagai motivasi, bukan pelarian dari masalah.
Fokus pada pencapaian kecil untuk menumbuhkan rasa percaya diri.
Seimbangkan motivasi ekstrinsik dan intrinsik, agar Anda tetap mampu bergerak tanpa imbalan.
Self-reward tidak harus mahal, dengan istirahat sebentar, menonton film, journaling, atau berjalan sore juga dapat menjadi bentuk penghargaan diri yang efektif.
Fenomena self-reward pada dasarnya dapat membantu kesehatan mental jika dilakukan dengan sadar, terukur, dan tidak berlebihan. Self-reward dapat meningkatkan motivasi, menurunkan stres, dan menguatkan hubungan positif dengan diri sendiri. Namun, jika disalah artikan sebagai alasan untuk bersikap konsumtif atau melarikan diri dari tanggung jawab, self-reward justru bisa menimbulkan tekanan baru. Kuncinya terletak pada keseimbangan: memahami batas diri, mengenali kebutuhan emosional, serta menjadikan reward sebagai bagian dari perjalanan pertumbuhan, bukan sebagai pelarian sementara.
Penulis : NMA