pgsd.fip.unesa.ac.id- Gerakan “Device-Free Childhood” muncul sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan gawai oleh anak usia dini yang berpotensi mengganggu perkembangan sosial, emosional, dan kognitif mereka. Bagi mahasiswa PGSD, memahami gerakan ini penting karena sekolah dasar menjadi ruang pertama di mana kebiasaan penggunaan teknologi mulai terbentuk secara terstruktur. Guru memiliki peran sentral dalam menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan perkembangan anak agar tidak terjadi ketergantungan yang berlebihan.
Gerakan ini menekankan pentingnya menyediakan waktu belajar dan bermain tanpa perangkat digital. Aktivitas non-gawai seperti membaca buku fisik, permainan tradisional, dan eksperimen sederhana di kelas dapat memperkuat interaksi sosial dan kemampuan motorik siswa. Penerapan kegiatan ini bukan berarti menolak teknologi sepenuhnya, melainkan mengatur penggunaannya secara tepat sehingga siswa tidak kehilangan kesempatan untuk mengalami dunia nyata secara utuh.
Namun, tantangan muncul ketika teknologi sudah menjadi bagian dari proses pembelajaran modern. Guru harus mampu merancang batasan penggunaan gawai di kelas tanpa menghambat akses siswa terhadap pembelajaran digital. Penentuan waktu, jenis aplikasi, serta tujuan penggunaan perlu ditetapkan secara jelas agar teknologi benar-benar menjadi alat belajar yang efektif, bukan distraksi. Mahasiswa PGSD perlu dibekali pemahaman ini untuk menjaga keseimbangan pedagogis.
Lingkungan keluarga juga berperan besar dalam keberhasilan implementasi gerakan ini. Guru perlu bekerja sama dengan orang tua agar kebiasaan penggunaan gawai dapat dikelola secara konsisten di rumah. Komunikasi mengenai risiko screen time berlebihan, strategi pengawasan, dan alternatif aktivitas konstruktif sangat penting untuk memastikan siswa mendapatkan dukungan yang sejalan di kedua lingkungan tersebut.
Dengan memahami prinsip-prinsip gerakan “Device-Free Childhood,” calon guru PGSD dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih sehat dan holistik bagi siswa. Pendekatan ini tidak hanya melindungi perkembangan anak, tetapi juga mendorong tumbuhnya kebiasaan belajar yang lebih fokus, interaktif, dan bermakna.
penulis: adeluh febiola
gambar: google