Hectic tapi Berarti: Perjalanan Saya di Semester Paling Sibuk
Semester lima menjadi masa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir mengikuti PMM di UNY akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh hal baru. Tapi saya tidak menyangka bahwa bersamaan dengan itu saya juga harus menjalani mata kuliah kakak tingkat dari kampus asal dan tetap aktif di lebih dari satu organisasi. Rasanya seperti hidup di tiga dunia sekaligus.
Setiap hari dimulai dengan suara alarm yang terasa terlalu cepat. Pagi-pagi saya harus bersiap mengikuti kelas PMM di UNY walaupun secara daring. Ada dosen baru, suasana kuliah baru, teman-teman baru, semuanya serba asing tapi menarik. Saya berusaha tampil aktif dan adaptif, meski di kepala saya sudah mulai berputar daftar tugas dari kampus asal yang belum tersentuh.
Selesai kuliah PMM, saya tidak bisa langsung pulang dan istirahat. Ada tanggung jawab organisasi yang menunggu. Kadang harus membuat laporan, kadang harus koordinasi acara, kadang harus mengikuti rapat yang muncul mendadak. Notifikasi grup organisasi tidak pernah benar-benar berhenti. Bahkan ketika saya sedang makan, sering ada saja pesan baru masuk.
Sore hari bukan waktunya istirahat. Justru itulah saat saya mengikuti kelas kating secara luring. Sambil menahan kantuk, saya mendengarkan penjelasan dosen yang materinya cukup berat. Kadang saya harus berpindah fokus antara slide presentasi, chat grup organisasi, dan tugas PMM yang harus segera dikumpulkan. Rasanya seperti multitasking di level tertinggi dalam hidup saya.
Di beberapa momen, saya merasa benar-benar kewalahan. Jadwal yang bertabrakan, deadline yang beruntun, kondisi tubuh yang mulai lelah terus-menerus. Saya pernah menangis diam-diam hanya karena merasa semuanya terlalu berat, tetapi di saat yang sama saya tidak punya pilihan selain terus maju. Saya sudah memilih jalan ini, dan saya harus bertanggung jawab.
Namun dari semua kelelahan itu, ada banyak hal yang saya syukuri. Saya belajar bagaimana caranya mengatur waktu, bagaimana memaksakan diri untuk tetap disiplin meskipun capek, bagaimana berani bilang tidak ketika amanah sudah terlalu banyak, dan bagaimana mengenali batas diri sendiri. Saya juga bertemu teman-teman baru yang suportif, dosen-dosen yang terbuka, dan pengalaman belajar yang tidak akan saya dapatkan jika saya tidak mengikuti PMM.
Di akhir-akhir semester, saya mulai menyadari sesuatu, ternyata saya bisa bertahan. Saya bisa melalui hari-hari yang awalnya saya kira mustahil dijalani. Meski hectic dan melelahkan, semester lima justru menjadi salah satu fase terpenting dalam hidup saya. Dari sini saya belajar bahwa sibuk bukan berarti buruk selama saya masih bisa belajar, berkembang, dan menghargai prosesnya. Semester ini mungkin membuat saya sering kelelahan, tapi juga membuat saya jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus