Hubungan Self-Efficacy dan Stres Akademik Mahasiswa
Peralihan dari jenjang sekolah menengah ke perguruan tinggi membawa perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa. Mereka menghadapi pola belajar baru, tuntutan akademik yang lebih kompleks, interaksi sosial yang lebih luas, serta ekspektasi terhadap kemandirian yang tinggi. Tidak mengherankan jika kondisi ini memunculkan tekanan akademik yang dapat berujung pada stres. Stres akademik menjadi fenomena yang semakin banyak dialami mahasiswa karena mereka dituntut mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang penuh persaingan, ditambah dengan beban tugas yang padat dan beragam. Dalam konteks ini, kemampuan mahasiswa dalam mengelola keyakinan diri atau self-efficacy berperan penting dalam menentukan bagaimana mereka merespons tekanan akademik tersebut.
Self-efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengatur serta melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Jurnal menjelaskan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy tinggi cenderung percaya pada kemampuannya untuk mengatasi berbagai situasi, termasuk situasi akademik yang menantang. Sebaliknya, mahasiswa dengan self-efficacy rendah sering merasa ragu terhadap kemampuan diri, sehingga lebih mudah mengalami tekanan ketika berhadapan dengan tugas atau tantangan akademik. Self-efficacy menjadi salah satu faktor internal yang dapat mendorong individu bertahan dalam kesulitan atau justru membuat mereka mudah menyerah ketika menghadapi beban perkuliahan.
Stres akademik sendiri muncul ketika mahasiswa merasa bahwa tuntutan yang mereka hadapi tidak sebanding dengan kemampuan yang dimiliki. Berdasarkan uraian dalam jurnal, stres akademik dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal mencakup pola pikir, kepribadian, dan keyakinan diri, sedangkan faktor eksternal meliputi padatnya materi kuliah, tuntutan prestasi, tekanan sosial, hingga ekspektasi orang tua. Kombinasi keduanya dapat menciptakan kondisi psikologis yang menekan mahasiswa secara berkelanjutan. Banyaknya tugas kuliah, waktu yang terbatas, serta tekanan untuk memperoleh nilai tinggi sering menjadi pemicu utama munculnya stres akademik.
Sebuah penelitian kajian konseling menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif korelasional untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan stres akademik pada mahasiswa. Instrumen diberikan kepada 75 mahasiswa dari berbagai semester, kemudian dianalisis melalui uji deskripsi data, uji prasyarat, dan uji hipotesis. Hasil analisis menunjukkan bahwa skor tertinggi self-efficacy mahasiswa berada pada angka 80, sejalan dengan skor tertinggi stres akademik yaitu 70. Data tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel ini bergerak seiringan, yang berarti mahasiswa yang memiliki self-efficacy tinggi dapat mengalami stres akademik yang tinggi pula. Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa keyakinan diri yang tinggi tidak selalu membuat stres akademik menurun.
Hasil penelitian lebih lanjut memperlihatkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-efficacy dan stres akademik. Artinya, semakin tinggi stres akademik yang dialami mahasiswa, semakin tinggi pula self-efficacy yang mereka tunjukkan. Kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep mastery experience yang dijelaskan Bandura, yakni pengalaman mengatasi kesulitan dapat meningkatkan keyakinan diri seseorang, meskipun berada dalam tekanan. Mahasiswa yang terbiasa berhadapan dengan tuntutan tinggi sering kali mengembangkan self-efficacy yang baik sebagai reaksi adaptif. Sebaliknya, tekanan akademik yang datang tiba-tiba atau dalam intensitas tinggi dapat memberikan dorongan pada mahasiswa untuk menguatkan diri sehingga keyakinan diri mereka meningkat.
Temuan tersebut membuka gambaran bahwa stres akademik tidak hanya berdampak negatif, tetapi juga dapat berperan sebagai pemicu mahasiswa untuk meningkatkan ketangguhan diri. Ketika mahasiswa berhadapan dengan beban tugas yang berat, mereka cenderung berusaha lebih keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Dalam proses inilah self-efficacy terbentuk dan berkembang. Namun demikian, hal ini tidak berarti stres akademik selalu membawa dampak positif. Jika tidak dikelola dengan baik, stres yang berlebihan tetap dapat melemahkan motivasi, mengganggu konsentrasi, dan menurunkan prestasi belajar.
Melihat hasil penelitian tersebut, penting bagi perguruan tinggi maupun mahasiswa untuk memperhatikan keseimbangan antara tuntutan akademik dan pengelolaan diri. Mahasiswa perlu diberikan akses terhadap layanan konseling, pelatihan manajemen stres, dan bimbingan akademik yang memadai. Upaya ini dapat membantu mereka memahami dan mengelola tekanan yang dialami, sekaligus membangun self-efficacy yang lebih kuat. Bagi mahasiswa sendiri, kesadaran akan pentingnya keyakinan diri dan kemampuan menghadapi tantangan menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan perkuliahan yang dinamis dan penuh tuntutan.
Secara keseluruhan, jurnal tersebut menegaskan bahwa hubungan antara self-efficacy dan stres akademik bersifat signifikan dan saling memengaruhi. Self-efficacy dapat berkembang seiring meningkatnya tekanan akademik, namun tetap perlu diimbangi dengan kemampuan regulasi emosi dan dukungan lingkungan. Kesadaran ini penting agar mahasiswa dapat menjalani proses akademik secara optimal tanpa terjebak dalam stres berkepanjangan. Dengan demikian, self-efficacy bukan hanya modal psikologis yang membantu mahasiswa mengatasi tuntutan akademik, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mengembangkan ketahanan diri untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Penulis: Shabrina Muhamida Fitri
Sumber: Siregar, I. K., & Putri, S. R. (2020). Hubungan self-efficacy dan stres akademik mahasiswa.