Integrasi Augmented Reality Mulai Ubah Cara Siswa Belajar di Kelas
pgsd.fip.unesa.ac.id – Teknologi Augmented Reality (AR) kini semakin sering digunakan dalam kegiatan belajar di sekolah dasar dan menengah. Melalui AR, siswa dapat melihat objek tiga dimensi yang muncul dari buku, kartu, atau layar perangkat, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan menarik. Inovasi ini mulai banyak digunakan pada materi seperti sains, ruang, teknologi, hingga sejarah. Kehadiran AR membuat konsep yang abstrak menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa.
Pembelajaran berbasis AR memberikan pengalaman visual yang jauh lebih kaya dibandingkan media konvensional. Siswa dapat memutar objek, memperbesar tampilan, hingga melihat detail bagian tertentu secara interaktif. Hal ini membuat materi pembelajaran terasa lebih nyata dan kontekstual. Selain meningkatkan pemahaman, penggunaan AR juga membantu siswa belajar dengan lebih mandiri karena mereka dapat mengeksplorasi materi sesuai keinginan.
Guru juga merasakan manfaat dari penggunaan AR sebagai alat bantu mengajar. Media ini mempermudah penyampaian konsep yang sulit dijelaskan, terutama dalam materi sains seperti sistem pencernaan, tata surya, atau struktur tumbuhan. Dengan tampilan tiga dimensi, siswa lebih cepat memahami hubungan antarbagian dan proses yang terjadi. Guru hanya perlu mengarahkan serta memfasilitasi siswa agar penggunaan teknologi tetap terarah.
Selain menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, AR juga mendorong siswa untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Mereka belajar menggunakan aplikasi, memahami navigasi perangkat, serta memecahkan masalah teknis sederhana. Pengalaman ini penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi kebutuhan keterampilan abad 21. Pembelajaran pun menjadi lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Secara keseluruhan, integrasi Augmented Reality telah membawa warna baru dalam proses pendidikan dan diprediksi semakin berkembang di masa mendatang. Teknologi ini bukan hanya sekadar alat hiburan, tetapi juga sarana belajar yang efektif dan inovatif.
Penulis: Adeluh Febiola
Gambar: Google