Integrasi Chatbot di Sektor Pendidikan: Guru Virtual untuk Peserta Didik SD?
Inovasi teknologi pendidikan terus berkembang pesat. Kini, sekolah-sekolah dasar di Indonesia mulai mengintegrasikan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai guru virtual untuk mendukung proses pembelajaran. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi digital serta meningkatkan efisiensi dan akses pembelajaran bagi peserta didik.
Chatbot pendidikan dirancang untuk membantu siswa dalam menjawab pertanyaan, memberikan latihan soal, hingga menjelaskan materi pelajaran secara interaktif. Dengan kemampuan memahami bahasa alami, chatbot dapat berkomunikasi layaknya guru sungguhan, menjawab pertanyaan sederhana dengan cepat, dan memberikan umpan balik secara langsung.
Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), penggunaan chatbot di sekolah dasar membantu meningkatkan kemandirian belajar siswa, terutama di daerah yang mengalami keterbatasan tenaga pendidik. Melalui sistem daring, siswa dapat berinteraksi dengan chatbot kapan saja tanpa dibatasi waktu belajar di kelas.
Selain itu, chatbot juga membantu guru dalam mengelola waktu dan beban kerja. Guru dapat memanfaatkan chatbot untuk memberikan pembelajaran tambahan, mengoreksi latihan otomatis, serta memantau kemajuan belajarsiswa melalui laporan digital yang dihasilkan sistem.
Namun, penerapan chatbot pendidikan tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan akses internet di wilayah terp encil dan kebutuhan akan pelatihan bagi guru agar mampu mengintegrasikan teknologi ini secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar.
Pakar pendidikan menilai bahwa keberadaan chatbot bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan sebagai mitra pembelajaran digital yang membantu siswa belajar secara mandiri dan menyenangkan. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, chatbot diharapkan dapat menjadi bagian penting dari transformasi digital pendidikan dasar di Indonesia.
Penulis: Bewanda Putri Alifah