Ketika Banyak Bukan Berarti Baik: Mengkritisi Obsesi Kuantitas dalam Pendidikan
Kata kunci: kuantitas pendidikan
pgsd.fip.unesa.ac.id – Dalam dunia pendidikan, capaian kuantitatif sering kali dijadikan tolok ukur utama keberhasilan. Banyaknya program, tingginya angka kelulusan, serta padatnya aktivitas sekolah kerap dianggap sebagai tanda kemajuan. Namun, anggapan bahwa “banyak berarti baik” perlu dikritisi, terutama ketika kuantitas tidak diiringi dengan kualitas pembelajaran yang bermakna.
Obsesi terhadap kuantitas mendorong institusi pendidikan untuk terus menambah program dan kegiatan. Sekolah berlomba menyelenggarakan berbagai agenda akademik dan nonakademik demi menunjukkan produktivitas. Sayangnya, tidak semua kegiatan tersebut dirancang dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Akibatnya, siswa terlibat dalam banyak aktivitas, tetapi tidak selalu memperoleh pengalaman belajar yang mendalam.
Kondisi ini juga berdampak pada guru. Guru dituntut untuk melaksanakan berbagai program sekaligus memenuhi target administratif. Fokus guru dapat terpecah antara mengajar, mengelola kegiatan, dan menyusun laporan. Dalam situasi seperti ini, kualitas interaksi belajar mengajar di kelas berisiko menurun karena energi dan waktu guru terbagi ke banyak hal.
Bagi siswa, pendidikan yang terlalu berorientasi pada kuantitas dapat menimbulkan kelelahan belajar. Jadwal yang padat dan tuntutan mengikuti berbagai kegiatan membuat siswa kurang memiliki waktu untuk refleksi dan pendalaman materi. Pembelajaran menjadi rutinitas yang harus dijalani, bukan proses yang menyenangkan dan bermakna.
Mengkritisi obsesi kuantitas bukan berarti menolak pentingnya produktivitas. Kuantitas tetap dibutuhkan sebagai indikator perkembangan. Namun, kuantitas seharusnya menjadi hasil dari proses pendidikan yang berkualitas, bukan tujuan utama. Pendidikan yang baik justru menekankan pada kedalaman pemahaman, relevansi materi, dan perkembangan karakter peserta didik.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan perubahan cara pandang dalam pengelolaan pendidikan. Sekolah perlu lebih selektif dalam merancang program dan kegiatan, memastikan setiap aktivitas memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Evaluasi pun perlu diarahkan pada dampak nyata terhadap perkembangan siswa, bukan sekadar jumlah kegiatan yang terlaksana.
Secara keseluruhan, banyak dalam pendidikan tidak selalu berarti baik. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu memberikan makna dan dampak nyata bagi peserta didik. Dengan menggeser fokus dari obsesi kuantitas menuju penguatan kualitas, dunia pendidikan dapat kembali pada esensinya sebagai proses pembentukan manusia yang utuh.