Kolaborasi PGSD FIP UNESA dengan UTeM Hasilkan Workshop Internasional Etno-STEAM
pgsd.fip.unesa.ac.id, MELAKA - Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM) bekerja sama dengan tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Fakultas Keguruan Universitas Kanjuruhan Malang sukses menggelar lokakarya internasional Etno-STEAM di Sekolah Kebangsaan Tambak Paya, Melaka. Acara ini digelar pada Kamis, 28 Agustus 2025 dan diikuti oleh guru-guru setempat, akademisi, serta mahasiswa pascasarjana Program Magister dan Doktor Pendidikan Dasar UNESA, dengan tujuan memperkuat praktik pembelajaran sekaligus menghadirkan inovasi dalam pendidikan dasar.
Konsep Etno-STEAM yang diperkenalkan dalam lokakarya ini merupakan perpaduan antara etnopedagogi dan kerangka Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM). Etnopedagogi menekankan pentingnya budaya dan kearifan lokal dalam pembelajaran, sementara STEAM menumbuhkan kreativitas melalui integrasi sains dan seni. Dengan menggabungkan keduanya, guru didorong untuk menciptakan pembelajaran yang kontekstual, kreatif, serta relevan dengan kehidupan peserta didik.
Sesi pertama disampaikan oleh Koordinator Prodi S2 DIKDAS Neni Mariana, S.Pd., M.Sc., Ph.D., yang membahas strategi menghubungkan etnopedagogi dengan STEAM. Ia menegaskan perlunya mengaitkan konsep ilmiah dengan kehidupan sehari-hari serta budaya lokal agar pembelajaran lebih bermakna dan membangkitkan rasa ingin tahu. Sementara itu,Dosen PGSD FIP UNESA Dr. Ganes Gunansyah, S.Pd., M.Pd., dalam sesi kedua menjelaskan pentingnya integrasi seni dalam STEAM sebagai upaya menumbuhkan empati, kreativitas, dan pola pikir kritis melalui pembelajaran berbasis proyek.
Sesi terakhir dipandu oleh Dr. Zaenal Abidin, S.Pd., M.Pd., dosen PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNESA, yang mengajak peserta membuat pesawat kertas sebagai contoh penerapan prinsip STEAM. Aktivitas sederhana tersebut menunjukkan bagaimana sains, matematika, teknik, seni, dan teknologi dapat diintegrasikan dalam satu kegiatan yang mudah diterapkan di kelas.
Selain paparan materi, peserta juga dilibatkan dalam penyusunan rencana pembelajaran dengan memanfaatkan potensi lokal, seperti Melaka River Cruise di Malaysia dan Kalimas River Tour di Surabaya. Latihan ini membuka wawasan para guru untuk menjadikan situs budaya dan lingkungan sebagai sumber belajar interdisipliner.