Mahasiswa Produktif atau Mahasiswa Overworked?
Akhir-akhir ini aku sering duduk sendiri sambil menatap layar laptop yang baterainya hampir habis, terus muncul satu pertanyaan yang nggak bisa hilang dari kepala “Aku ini produktif… atau cuma kecapekan tapi sok sibuk?” Hidupku sebagai mahasiswa semester lima belakangan ini benar-benar seperti roller coaster. Pagi kuliah, siang rapat, sore mengurus laporan, malam ngerjain tugas sambil merem melek. Ada kalanya aku merasa bangga karena bisa menghadapi semuanya. Tapi di sisi lain, ada waktu-waktu ketika aku merasa cuma sekadar bertahan hidup dari satu deadline ke deadline lainnya.
Tiap buka grup WhatsApp, isinya rapat. Buka Google Classroom, isinya tugas. Buka Instagram, isinya temen-temen healing. Sementara aku? Healing aja harus dijadwalkan. Awalnya aku kira ini semua bagian dari jadi mahasiswa yang aktif dan produktif. Aku pikir sibuk itu keren, capek itu biasa, dan begadang itu tanda perjuangan. Tapi lama-lama, tubuhku mulai protes. Kepala sering berat, mood gampang naik-turun, dan hal-hal kecil bisa bikin aku kesel seharian.
Ada satu momen yang bener-bener bikin aku mikir. Malam itu aku baru pulang rapat, dan langsung duduk ngerjain tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Badanku lelah, tapi otakku tetap kupaksa. Pas jam 2 pagi, aku berhenti, tutup laptop pelan-pelan, dan bilang dalam hati “Ini bukan produktif. Ini menyiksa diri.”
Sejak saat itu aku mulai sadar bahwa sibuk dan produktif itu dua hal yang berbeda. Produktif itu ketika aku bisa berkembang tanpa kehilangan diri sendiri. Tapi sekarang? Rasanya aku cuma menjalani hari karena terpaksa, bukan karena ingin. Perlahan, aku belajar ngajarin diriku untuk nggak selalu mengiyakan semua hal. Mulai belajar bilang “nanti ya”, atau “aku nggak bisa”, atau sekadar ambil jeda lima menit buat tarik napas panjang. Aku mulai bikin batasan, mana yang perlu aku kerjakan sekarang, mana yang bukan tanggung jawabku, dan mana yang harus aku lepaskan biar kepalaku nggak meledak duluan.
Ternyata… hidup lebih enak ketika aku berhenti memaksa diriku buat jadi superhuman.
Kadang aku rebahan tanpa rasa bersalah. Kadang aku makan enak setelah hari yang berat. Kadang aku matikan semua notifikasi karena capek banget. Dan nggak apa-apa. Serius, nggak apa-apa. Aku masih sibuk, iya. Masih ikut organisasi, masih ngerjain tugas, masih lari ke sana kemari. Tapi sekarang aku lebih ngerti: produktif itu bukan soal seberapa banyak yang aku lakukan, tapi seberapa baik aku menjaga diriku sendiri. Dan mungkin, dalam perjalanan jadi mahasiswa yang hectic dan serba dikejar waktu, hal paling penting yang akhirnya kupelajari adalah ini “Aku boleh capek, tapi aku nggak boleh hilang dari diriku sendiri.”
Penulis : Salsabila Ramadani Firdaus