Media Sosial Membentuk Citra Diri Mahasiswa: Antara Insecurity dan Self-Love
pgsd.fip.unesa.ac.id Media sosial kini menjadi ruang utama bagi mahasiswa untuk mengekspresikan identitas diri secara terbuka. Kehadiran berbagai platform digital memudahkan mereka membagikan aktivitas, pencapaian, hingga potret kehidupan sehari-hari. Fenomena ini membuat citra diri tidak hanya dibangun melalui dunia nyata, tetapi juga melalui interaksi online. Namun, tekanan untuk terlihat sempurna sering kali menimbulkan perbandingan sosial yang tidak sehat. Banyak mahasiswa merasa harus mengikuti standar visual dan kesuksesan tertentu agar diterima lingkungan. Situasi ini menimbulkan dampak emosional yang cukup besar. Kondisi tersebut dapat berubah menjadi rasa cemas dan tidak percaya diri. Akibatnya, media sosial sekaligus menjadi ruang yang memicu insecurity.
Berbagai tren kecantikan, gaya
hidup mewah, dan standar pencapaian akademik kerap memicu tekanan tersendiri.
Mahasiswa sering menilai diri mereka berdasarkan angka pengikut atau jumlah
suka pada unggahan. Ketika realitas kehidupan tidak sesuai dengan tampilan
digital, rasa rendah diri semakin meningkat. Beberapa mahasiswa akhirnya
mengalami kelelahan mental karena berusaha mengikuti standar tersebut.
Ketidakmampuan memenuhi ekspektasi sosial mendorong munculnya kekhawatiran
bahwa diri mereka tidak cukup baik. Situasi ini memperkuat dorongan untuk terus
membandingkan diri dengan orang lain. Pola tersebut dapat mengganggu
konsentrasi, produktivitas, dan kesehatan psikologis. Dampaknya tidak hanya
terasa secara pribadi tetapi juga dalam hubungan sosial.
Meskipun demikian, media sosial
juga memberikan ruang positif untuk self-love dan pengembangan diri. Banyak
mahasiswa menggunakan platform digital sebagai wadah berbagi motivasi, edukasi,
serta pengalaman inspiratif. Unggahan tentang kesehatan mental dan penerimaan
diri mulai menjadi tren yang membantu menguatkan kepercayaan diri. Berbagi
cerita tentang proses belajar dan kegagalan turut mengubah perspektif bahwa
kesempurnaan bukan syarat untuk dihargai. Mahasiswa menemukan komunitas yang
saling mendukung dan memberi ruang untuk berkembang. Kondisi ini membentuk pola
interaksi yang lebih sehat dibanding sekadar berlomba menunjukan kesuksesan.
Banyak konten refleksi diri justru mendorong kesadaran akan pentingnya
mencintai diri sendiri. Perubahan pola pikir ini perlahan mengurangi tekanan
sosial yang dialami.
Penggunaan media sosial secara
sadar menjadi kunci agar mahasiswa tetap berada pada jalur yang seimbang.
Mereka perlu menyadari bahwa identitas sejati tidak sepenuhnya ditentukan oleh
tampilan digital. Mengontrol waktu penggunaan media sosial membantu menjaga
kesehatan mental dan fokus pada tujuan nyata. Memilih konten yang bermanfaat
juga menjadi langkah penting dalam membangun citra diri yang lebih stabil.
Mahasiswa diajak untuk menyaring apa yang mereka lihat dan tidak kehilangan
jati diri. Kolaborasi dan diskusi mengenai self-love menjadi strategi penting
untuk menciptakan lingkungan digital yang positif. Mengembangkan empati antar
pengguna memperkuat rasa aman dalam berinteraksi online. Langkah ini membantu
membangun komunitas yang saling mendukung.
Pada akhirnya, media sosial dapat
menjadi sarana penguatan diri maupun sumber tekanan psikologis. Pilihan
penggunaan menentukan arah perkembangan citra diri mahasiswa di masa depan.
Kesadaran diri dalam berinteraksi di dunia digital akan memberi dampak besar
terhadap kesejahteraan emosional. Mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan media
sosial sebagai ruang pembelajaran, bukan arena kompetisi. Perbandingan tanpa
kendali hanya akan menghambat pertumbuhan pribadi. Sedangkan self-love
mendorong rasa syukur dan menghargai proses. Keseimbangan antara dunia digital
dan nyata menjadi fondasi penting dalam perjalanan pengembangan diri. Dengan
pengelolaan yang sehat, media sosial dapat menjadi ruang yang menumbuhkan
kepercayaan diri dan bukan sebaliknya.
Penulis:
Mutia Syafa Yunita
Foto:
Google