Memahami Akar Psikologis Perilaku Perundungan di Lingkungan Pendidikan Dasar
pgsd.fip.unesa.ac.id – Perundungan atau bullying di tingkat pendidikan dasar merupakan fenomena kompleks yang memerlukan pemahaman mendalam mengenai kondisi psikologis dari setiap individu yang terlibat. Perilaku agresif ini sering kali muncul sebagai bentuk pelampiasan dari adanya masalah emosional yang tidak terselesaikan di lingkungan terdekat anak. Anak yang menjadi pelaku perundungan biasanya sedang berusaha mencari pengakuan atau menunjukkan kekuasaan karena merasa tidak memiliki kontrol di area lain. Mereka mungkin saja pernah menjadi korban kekerasan atau kurang mendapatkan perhatian yang cukup dari sosok dewasa yang menjadi panutan mereka. Kurangnya kemampuan empati juga menjadi faktor utama mengapa seorang anak tega menyakiti temannya baik secara fisik maupun secara verbal. Fenomena ini bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan sebuah sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi dengan baik dan benar. Penting bagi kita untuk melihat melampaui tindakan yang terlihat guna menemukan akar permasalahan yang sebenarnya terjadi pada diri sang anak. Pencegahan yang efektif dimulai dengan membangun ikatan emosional yang sehat dan mengajarkan kecerdasan emosional sejak usia yang sangat dini.
Dinamika kelompok sosial pada usia sekolah dasar juga turut memengaruhi terjadinya tindakan perundungan yang dilakukan oleh siswa secara bersama-sama. Anak-anak sering kali melakukan perundungan agar diterima dalam lingkaran pertemanan tertentu atau untuk menghindari diri dari menjadi sasaran perundungan selanjutnya. Rasa ingin memiliki dan kebutuhan akan status sosial di antara teman sebaya dapat mendorong anak melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani. Dalam hal ini, penonton atau rekan yang hanya diam juga memegang peran dalam melanggengkan budaya kekerasan di lingkungan belajar. Mereka yang diam biasanya merasa takut akan konsekuensi sosial atau fisik jika mereka memutuskan untuk membela pihak yang tersakiti. Lingkungan yang tidak memiliki norma yang jelas mengenai perilaku saling menghargai akan menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya tindakan agresif. Oleh karena itu, membangun budaya empati di mana setiap individu merasa bertanggung jawab atas keselamatan orang lain adalah solusi yang mendesak. Pendidikan karakter harus menjadi bagian yang menyatu dalam setiap interaksi harian agar nilai-nilai kebaikan menjadi kebiasaan yang alami bagi anak.
Dampak psikologis bagi korban perundungan sangatlah mendalam dan dapat bertahan hingga jangka waktu yang sangat lama bahkan hingga usia dewasa. Anak yang mengalami perundungan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami penurunan prestasi, hingga munculnya gangguan kecemasan yang cukup berat. Rasa tidak aman yang dialami setiap hari dapat merusak harga diri anak dan membuat mereka merasa tidak berharga di mata orang lain. Sering kali, korban tidak berani melaporkan kejadian yang dialaminya karena adanya rasa malu atau ancaman yang diterima dari pihak pelaku. Luka emosional ini jauh lebih sulit untuk disembuhkan dibandingkan dengan luka fisik yang terlihat secara kasat mata oleh orang lain. Diperlukan sistem dukungan yang kuat agar korban merasa aman untuk berbicara dan mendapatkan perlindungan yang mereka butuhkan segera mungkin. Pendampingan psikologis harus diberikan untuk memulihkan kepercayaan diri korban dan membantu mereka memproses trauma yang telah terjadi dengan cara sehat. Penanganan yang cepat dan tepat akan mencegah dampak buruk yang lebih luas bagi perkembangan jiwa dan masa depan sang anak.
Di sisi lain, pelaku perundungan juga membutuhkan bimbingan psikologis yang intensif untuk mengubah pola perilaku agresif mereka menjadi perilaku yang prososial. Memberikan hukuman tanpa adanya pembinaan emosional hanya akan membuat pelaku merasa semakin terasing dan berpotensi mengulangi tindakannya di kemudian hari. Mereka perlu diajarkan cara mengelola amarah, cara berkomunikasi yang efektif, serta bagaimana cara berempati terhadap perasaan orang lain di sekitar mereka. Sering kali, di balik perilaku yang keras, terdapat jiwa yang rapuh dan membutuhkan bimbingan untuk menemukan jati diri yang lebih positif. Orang dewasa harus mampu memberikan batasan yang tegas namun tetap menunjukkan kepedulian terhadap pertumbuhan karakter anak yang sedang melakukan kesalahan tersebut. Pemulihan hubungan antara pihak yang terlibat melalui proses rekonsiliasi yang sehat dapat menjadi pembelajaran berharga mengenai arti dari sebuah pertobatan. Fokus utama harus tetap pada perbaikan perilaku dan penyembuhan luka emosional bagi semua pihak yang terlibat dalam konflik tersebut secara menyeluruh. Kolaborasi antara keluarga dan lingkungan sekitar sangatlah menentukan keberhasilan dalam memutus rantai kekerasan yang terjadi pada anak-anak kita.
Secara keseluruhan, menangani masalah perundungan adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan kesadaran dan komitmen penuh dari seluruh elemen masyarakat yang ada. Pendidikan bukan hanya soal mencerdaskan otak, tetapi juga soal menghaluskan budi pekerti dan memperkuat empati di dalam sanubari anak. Lingkungan belajar harus menjadi tempat yang paling aman bagi setiap anak untuk tumbuh, berkembang, dan berekspresi tanpa rasa takut sedikit pun. Mari kita lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera memberikan bantuan sebelum masalah yang terjadi menjadi semakin besar dan rumit. Komunikasi yang terbuka dan jujur antara orang dewasa dan anak akan menjadi benteng utama dalam mencegah terjadinya tindakan perundungan. Mari kita ajarkan kepada anak-anak kita bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan menyakiti, melainkan pada kemampuan untuk melindungi. Dengan cinta dan pengertian yang tulus, kita dapat menciptakan generasi yang mampu hidup berdampingan secara damai dan penuh dengan rasa hormat. Masa depan yang harmonis dimulai dari bagaimana kita mendidik hati anak-anak kita pada hari ini dengan penuh dedikasi.
Penulis: Mutia Syafa Yunita
Foto: Google