Membangun Growth Mindset pada Anak SD: Mengubah Kata “Tidak Bisa” Menjadi “Belum Bisa”
pgsd.fip.unesa.ac.id Kesadaran tentang pentingnya growth mindset semakin berkembang di lingkungan pendidikan dasar. Banyak siswa terbiasa mengatakan “tidak bisa” ketika menghadapi kesulitan belajar. Pola pikir tersebut dapat menghambat perkembangan kemampuan dan kepercayaan diri mereka. Untuk mengubahnya, diperlukan pembiasaan menggunakan kalimat “belum bisa” sebagai bentuk optimisme belajar. Sikap ini membantu anak memahami bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan latihan. Anak diajak untuk melihat kesalahan sebagai bagian wajar dari proses belajar, bukan kegagalan. Perubahan cara berpikir ini berpengaruh besar terhadap motivasi dan ketekunan. Growth mindset menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat.
Penerapan growth mindset dapat
dilakukan melalui pembiasaan bahasa positif di dalam kelas. Guru dapat
mengapresiasi proses daripada hanya menilai hasil akhir. Dukungan verbal yang
menekankan usaha membantu anak merasa dihargai atas kerja keras yang dilakukan.
Lingkungan belajar yang aman secara emosional membuat anak berani mencoba dan
tidak takut melakukan kesalahan. Strategi seperti refleksi, jurnal harian, dan
tantangan belajar bertahap dapat meningkatkan rasa percaya diri. Anak diajak
merayakan kemajuan kecil sebagai bukti bahwa kemampuan berkembang. Dengan
strategi yang tepat, siswa akan semakin gigih menghadapi kesulitan. Growth
mindset memupuk karakter pantang menyerah dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Selain berperan bagi perkembangan
akademik, growth mindset juga berdampak pada kehidupan sosial dan emosional
siswa. Anak yang terbiasa berpikir positif lebih mudah berkolaborasi dan
menghargai pendapat teman. Mereka belajar menerima kritik secara konstruktif
tanpa merasa terancam. Growth mindset juga membentuk kemampuan mengatur emosi
ketika menghadapi hambatan. Ketahanan diri meningkat dan anak lebih siap
menghadapi tantangan di luar sekolah. Interaksi belajar menjadi lebih sehat
karena tidak ada persaingan negatif. Kepedulian dan dukungan antar teman
belajar semakin kuat. Nilai-nilai karakter berkembang seiring meningkatnya
kualitas pembelajaran.
Peran keluarga juga penting dalam
mendukung pembentukan growth mindset. Orang tua dapat menghindari memberi label
seperti “anak pintar” atau “anak lemah” yang berpotensi menciptakan mindset
tetap. Menggantinya dengan pujian terhadap usaha membantu anak memahami bahwa
keberhasilan adalah proses. Suasana rumah yang memberi ruang mencoba dan
belajar dari kesalahan menjadi dukungan emosional yang besar. Konsistensi pola
komunikasi antara rumah dan sekolah memberikan hasil lebih optimal. Anak
belajar bahwa tidak ada keberhasilan yang instan, semuanya membutuhkan proses.
Kerja sama keluarga dan sekolah memperkuat keberlanjutan growth mindset.
Pendidikan karakter menjadi bagian alami dari kehidupan anak.
Dengan demikian, membangun growth
mindset menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan
karakter siswa sekolah dasar. Perubahan sudut pandang tentang kemampuan belajar
mendorong anak untuk terus berkembang tanpa mudah menyerah. Lingkungan yang
mendukung perkembangan potensi menjadi kunci keberhasilan proses ini. Penguatan
mindset positif menciptakan siswa yang mandiri, percaya diri, dan siap
menghadapi tantangan pada masa depan. Pembelajaran tidak lagi dipandang sebagai
tekanan, tetapi perjalanan yang menyenangkan. Ketekunan dan usaha menjadi
bagian penting dari kesuksesan. Growth mindset membentuk generasi pembelajar
yang resilient dan kreatif. Perubahan besar dimulai dari cara berpikir kecil
yang dibiasakan sejak dini.
Penulis:
Mutia Syafa Y.
Foto:
Google