Mengajar Tanpa Media vs Mengajar Dengan Media
Pembelajaran yang hanya bertumpu pada ceramah sering kali membuat peserta didik pasif, mendengar, mencatat, lalu menunggu bel berakhir. Pengetahuan memang tersampaikan, namun tidak selalu tertanam. Guru berbicara lebih banyak, siswa bekerja lebih sedikit. Di sinilah muncul pertanyaan penting dalam pembelajaran modern: apakah penyampaian materi cukup hanya melalui kata-kata? Jawabannya mulai terlihat ketika media hadir sebagai jembatan pengalaman belajar.
Penggunaan media pembelajaran mengubah kelas menjadi ruang eksplorasi. Salah satu contohnya adalah boardgame Eco AR yang dibuat oleh tim 3 2024C PGSD FIP UNESA, media edukatif bertema ekosistem yang menggabungkan papan permainan, kartu rintangan, misi, dan misteri, serta teknologi Augmented Reality (AR). Siswa tidak lagi hanya mendengar penjelasan tentang rantai makanan atau interaksi makhluk hidup; mereka memainkannya. Melempar dadu, memilih pion, mengambil kartu, menjawab soal, lalu melihat objek hidup tampil melalui AR semua proses itu menyalakan rasa ingin tahu dan membuat konsep tidak lagi abstrak. Perbedaan antara kelas tanpa media dan kelas dengan media terasa bahkan dalam suasana ruang belajar. Ketika guru berceramah, kelas mudah sunyi namun cepat hilang fokus. Sebaliknya, saat Eco AR dimainkan, pembelajaran hidup, diskusi muncul, argumen terjadi, strategi disusun, dan siswa terlibat secara sosial maupun kognitif
.
Dengan demikian, media bukan sekadar pelengkap pembelajaran, melainkan katalis yang memperkuat transfer pengetahuan. Ceramah memberi dasar, namun media memberi pengalaman. Jika tanpa media belajar terasa satu arah, maka dengan media belajar menjadi interaktif, aktif, dan bermakna.