MENGAJARKAN SIKAP ANTI BULLYING MELALUI CERITA DAN PERMAINAN PERAN
Bullying masih menjadi masalah serius di sekolah dasar dan berdampak pada kesehatan mental serta prestasi belajar anak. Data KPAI tahun 2023 mencatat bahwa kasus perundungan di sekolah meningkat hingga 27% dibanding tahun sebelumnya. Banyak siswa menjadi korban tanpa berani melapor karena takut atau tidak tahu cara meminta bantuan. Karena itu, pembelajaran anti bullying perlu ditanamkan sejak dini melalui metode yang ramah dan mudah dipahami anak.
Cerita anak menjadi salah satu media efektif untuk mengenalkan konsep anti bullying. Cerita bergambar yang menampilkan tokoh berani, tokoh korban, dan tokoh penolong membantu anak memahami situasi bullying dengan contoh konkret. Melalui cerita, guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang perilaku baik dan buruk. Dengan cara ini, anak belajar membedakan tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap teman.
Selain cerita, permainan peran juga sangat efektif dalam menanamkan sikap anti bullying. Dalam role play, siswa dapat memerankan berbagai peran seperti pelaku, korban, dan pengamat sehingga mereka memahami dampak emosional dari setiap tindakan. Aktivitas ini juga melatih empati dan kemampuan siswa untuk membela teman yang mengalami perundungan. Dengan bimbingan guru, permainan peran dapat menciptakan suasana kelas yang aman dan saling mendukung.
Guru dan mahasiswa PGSD dapat merancang skenario permainan peran yang sederhana namun bermakna. Mereka dapat menyesuaikan cerita dan adegan dengan situasi yang sering terjadi di sekolah dasar. Mahasiswa juga dapat menggunakan boneka tangan, kartu karakter, atau drama mini untuk membuat kegiatan lebih menarik. Dengan pendekatan kreatif, pembelajaran anti bullying tidak terasa menggurui tetapi tetap memberikan pesan kuat.
Dengan demikian, cerita dan permainan peran merupakan metode yang efektif untuk mengajarkan sikap anti bullying kepada siswa SD. Kedua metode ini membantu anak memahami konsep secara emosional dan praktis sehingga mereka lebih berani bersikap baik serta membela teman. Rekomendasi ke depan adalah memperbanyak pelatihan bagi guru dan mahasiswa PGSD tentang pendidikan karakter berbasis cerita dan drama. Dengan upaya bersama, sekolah dapat menjadi lingkungan aman, inklusif, dan bebas dari tindakan perundungan.
Penulis: Etika Meilani