Mengatur Tugas atau Diatur Tugas?
Setiap
mahasiswa pasti pernah berada di fase ketika tugas terasa seperti monster tak
berwujud yang terus mengejar tanpa henti. Hari ini dapat satu tugas, besok
dapat dua, minggu depan tiba-tiba ada presentasi, refleksi, makalah, dan
laporan observasi yang muncul bersamaan. Pada momen-momen itu, muncul
pertanyaan yang terasa sangat filosofis tapi juga sangat realistis “Sebenarnya,
aku yang mengatur tugas, atau tugas yang mengatur aku?”.
Pertanyaan
ini tidak sekadar muncul dari rasa lelah, tetapi dari kenyataan bahwa dunia
perkuliahan memiliki ritme yang berbeda dari masa sekolah. Di bangku kuliah,
kebebasan adalah pedang bermata dua yakni, memberi ruang untuk mengatur diri
sendiri, tapi juga memberi peluang untuk terjerumus dalam penundaan. Tanpa guru
yang tiap hari mengingatkan, dan tanpa orang tua yang memantau, mahasiswa harus
belajar menjadi manajer bagi dirinya sendiri. Inilah titik awal ketika banyak
dari kita mulai sadar bahwa kemampuan mengatur tugas adalah salah satu
keterampilan paling penting di masa kuliah.
Banyak
mahasiswa yang mengawali perjalanan kuliahnya dengan idealisme tinggi seperti
ingin produktif, ingin disiplin, ingin semua tugas selesai lebih awal. Namun
idealisme itu sering goyah ketika berhadapan dengan kehidupan kampus yang
dinamis. Jadwal organisasi, undangan acara fakultas, ajakan nongkrong, hingga
rasa lelah setelah kuliah seharian dan semuanya hal yang terjadi ikut
mempengaruhi energi dan fokus. Tidak jarang akhirnya tugas terasa seperti beban
yang mengatur arah hidup, bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Padahal,
mengatur tugas bukan soal bekerja terus-menerus, tetapi soal memahami ritme
hidup sendiri. Ada mahasiswa yang baru bisa fokus malam hari, ketika kota mulai
tenang dan kecemasan tentang deadline entah kenapa justru membuat otak lebih
hidup. Ada pula yang harus bangun pagi karena otaknya lebih jernih. Mengatur
tugas berarti mengenali kapan tubuh sedang berada di kondisi terbaik untuk
bekerja, dan kapan perlu berhenti. Tanpa mengenali ini, tugas akan terasa
semakin berat, seolah-olah menghabiskan seluruh energi kita.
Kunci
pertama untuk mengatur tugas adalah menyadari bahwa otak punya batas. Ketika
tugas dikumpulkan hanya berdasarkan urgensi tanpa perencanaan, kita cenderung
menunda. Menunda sebentar, lalu menjadi menunda lebih lama, hingga akhirnya
tugas menumpuk seperti banjir yang tidak terbendung. Pada saat itulah tugas
terlihat seperti penguasa hidup kita. Banyak mahasiswa panik menjelang deadline,
begadang sampai pagi, dan mengerjakan segala sesuatu dengan terburu-buru.
Setelah selesai, muncul rasa lega tapi juga kelelahan luar biasa. Siklus ini
terus berulang jika tidak ada perubahan.
Banyak
mahasiswa yang mulai menemukan strategi mereka seiring berjalannya waktu. Ada
yang menggunakan to-do list sederhana di kertas kecil. Ada yang memakai
aplikasi digital untuk mencatat deadline. Ada yang memecah tugas besar menjadi
bagian-bagian kecil agar terasa lebih ringan. Kebiasaan kecil seperti “ngerjain
sedikit demi sedikit” ternyata punya efek besar. Tugas yang awalnya menakutkan
menjadi lebih bisa dikendalikan. Tiba-tiba, kamu mulai merasa seperti sutradara
yang memegang seluruh alur cerita hidupmu. Namun, mengatur tugas bukan berarti
kamu harus hidup kaku tanpa fleksibilitas. Justru mahasiswa yang terlalu
memaksakan jadwal sering berakhir stres ketika ada perubahan mendadak.
Realitanya, akan selalu ada dosen yang mengubah jadwal, tugas kelompok yang
lambat koordinasinya, atau hari-hari ketika kepala terlalu penuh untuk
berpikir. Pada momen itu, penting untuk tidak menyalahkan diri sendiri.
Mengatur tugas juga berarti memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai
rencana, dan tidak apa-apa untuk menyesuaikan langkah.
Ada
satu hal penting yang sering diabaikan “jeda”. Banyak mahasiswa mengira
mengatur tugas berarti bekerja tanpa henti. Padahal, jeda adalah bagian dari
strategi. Ketika tubuh lelah, otak tidak bisa bekerja optimal. Lima menit
meregangkan badan, minum air, atau berjalan sebentar keluar kos bisa mempengaruhi
kualitas kerja. Mahasiswa yang mampu memberikan jeda pada dirinya sendiri
biasanya lebih tahan menghadapi tekanan akademik. Karena mengatur tugas
sejatinya adalah mengatur energi, bukan sekadar mengatur waktu. Seiring
berjalannya semester, kamu akan mulai membedakan mana tugas yang perlu
dikerjakan sekarang, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak
membutuhkan tenaga sebesar itu. Kamu akan lebih lihai memprioritaskan. Kamu
mulai memahami bahwa tidak semua tugas harus sempurna. Terkadang, “cukup baik”
sudah cukup untuk membuatmu tetap waras. Dan perlahan, kamu akan menyadari
bahwa yang mengatur hidupmu bukan tugas-tugas itu, tetapi kamu sendiri dengan
cara mengelola semuanya.
Pada
ujungnya, pertanyaan “Mengatur tugas atau diatur tugas?” bukan menjadi sebuah
pertanyaan untuk dijawab sekali lalu selesai. Ini adalah refleksi yang muncul
berulang-ulang sepanjang masa kuliah. Ada hari ketika kamu merasa unggul, semua
tugas terkontrol. Tapi ada pula hari ketika tugas kembali mengambil alih. Tidak
apa-apa. Yang penting adalah terus bergerak, terus belajar mengenali diri, dan
terus menata strategi mengerjakan tugas dengan cara yang paling sehat untuk
dirimu. Kuliah bukan perlombaan untuk selalu produktif. Ini adalah perjalanan
memahami diri sendiri sambil menyelesaikan tanggung jawab akademik. Ketika kamu
bisa menyeimbangkan keduanya, kamu akan merasakan bahwa tugas bukan lagi musuh,
melainkan bagian dari proses menuju kedewasaan.
Penulis: Shabrina Muhamida Fitri