Mengisi Liburan dengan Kerja Part Time: Pilihan Berani atau Terpaksa?
Pada liburan semester 2 yang cukup panjang, sekitar
dua bulan, aku mulai merasa tidak mau melewatkan waktu hanya dengan berdiam
diri. Pulang kampung memang menyenangkan, tapi rasanya sayang jika waktu
sebanyak itu tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif. Dari situ
muncul niat untuk mencari aktivitas, entah ikut volunteer, kegiatan kampus,
atau kerja part time sebagai opsi yang paling jelas.
Awalnya aku kepikiran untuk kerja di café supaya bisa
dapat pengalaman di dunia F&B. Namun, orang tua minta supaya aku memilih
pekerjaan yang dekat rumah untuk alasan keamanan dan agar tidak terlalu berat.
Akhirnya aku diterima bekerja di sebuah toko swalayan dekat rumah sebagai kasir
sekaligus membantu menata barang. Pernah juga aku ikut mengecek barang baru
bersama sales. Intinya, pekerjaannya cukup beragam, tapi aku jalani dengan
sepenuh hati.
Namun masalahnya, saat itu aku juga harus mengikuti
Kursus Mahir Dasar (KMD), kegiatan kampus yang cukup padat dan butuh komitmen
tinggi. Lokasi kerjaku di Pasuruan, sedangkan KMD di Surabaya, membuat aku
harus menjalani rutinitas bolak-balik antara dua kota. Meskipun naik kereta
yang mudah karena tinggal scan tiket, tetap saja energi terkuras. Saat ada
jadwal KMD, aku izin tidak masuk kerja. Bahkan saat ada kegiatan camping di
Mojokerto, aku izin beberapa hari agar bisa fokus.
Setelah KMD selesai, rasanya lega sekali meskipun
capeknya dobel, baik fisik maupun pikiran. Tapi anehnya, di tengah kelelahan
itu muncul rasa bangga karena bisa melewati semuanya. KMD jadi kenangan
berharga, dengan tugas yang banyak dan kegiatan yang padat, tapi aku tetap
bertahan.
Padahal awalnya aku berencana ikut teman pulang ke
Tulungagung atau Trenggalek saat liburan, namun aku lebih memilih kerja untuk
menambah uang saku. Kadang kepikiran ingin ikut volunteer atau kegiatan kampus
lain, namun karena sudah terikat kerja part time, aku harus tetap berkomitmen.
Menyesal? Sama sekali tidak. Aku justru dapat pengalaman baru: bertemu banyak
orang, belajar kerja lapangan, manajemen waktu, dan mengenali batas diri.
Aku menyadari satu hal penting: kita tidak selalu
mendapatkan liburan ideal seperti yang dibayangkan, tapi kita bisa memilih
menjalani versi terbaiknya sesuai kemampuan.
Jadi, jika kamu juga sedang menghadapi liburan panjang
dan bingung harus produktif atau beristirahat, ingatlah: apapun pilihanmu, jalani
dengan semangat, siap menghadapi tantangan, dan nikmati prosesnya.
Tips Semangat untuk Mahasiswa yang “Survive” di
Liburan Panjang:
- Manfaatkan waktu liburan
secara produktif, seperti kerja part time, ikut volunteer, atau mengambil
kursus tambahan.
- Atur jadwal dengan baik
agar ada keseimbangan antara kegiatan dan waktu istirahat.
- Pelajari manajemen waktu
agar semua kegiatan dapat dijalankan tanpa stres berlebihan.
- Jangan takut mengambil
kesempatan baru untuk belajar hal-hal yang berbeda.
- Jaga kesehatan fisik dan
mental agar energi tetap terjaga sepanjang liburan.
- Gunakan pengalaman
selama liburan sebagai modal untuk bekal di masa depan.
Penulis: Qonita Adzkiya’