Menguatkan Pembelajaran Kurikulum Merdeka Melalui Kearifan Lokal
pgsd.fip.unesa.ac.id Peran kearifan lokal dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka kini mendapat perhatian besar dalam dunia pendidikan. Pendekatan ini dinilai mampu memperkaya pengalaman belajar dan menanamkan nilai budaya sejak usia dini. Mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran dianggap sebagai cara efektif untuk membangun identitas dan karakter siswa. Penggunaan kearifan lokal membuat pembelajaran terasa lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya mempelajari pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mempraktikkannya melalui contoh konkret dari lingkungan sekitar. Hal ini membuat proses belajar menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami. Dengan pembelajaran berbasis budaya lokal, siswa belajar menghargai warisan budaya yang dimiliki daerahnya. Pendekatan ini dinilai relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Strategi pembelajaran berbasis
kearifan lokal dapat diterapkan melalui berbagai kegiatan tematik. Contohnya
melalui cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, hingga makanan khas
yang dapat dijadikan media pembelajaran. Kegiatan-kegiatan sederhana ini
membantu siswa mengenal nilai moral dan etika yang diwariskan turun-temurun.
Selain itu, pembelajaran juga dapat dikaitkan dengan potensi daerah seperti
pertanian, kerajinan tangan, atau lingkungan alam yang dekat dengan tempat
tinggal siswa. Guru dapat mengajak siswa melakukan observasi langsung untuk
memahami proses dan makna dari kearifan lokal tersebut. Pengalaman belajar
nyata ini memberikan pemahaman lebih dalam daripada hanya menghafal teori.
Siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan percaya diri. Integrasi budaya lokal
juga memperkuat rasa cinta tanah air sejak dini.
Melalui pembelajaran yang
memanfaatkan kearifan lokal, siswa dilatih untuk memahami masalah nyata dan
menemukan solusi berdasarkan pengalaman masyarakat. Pendekatan ini mengajarkan
cara berpikir kritis serta kemampuan kolaborasi dalam kelompok. Siswa belajar
menghargai pendapat dan pengalaman orang lain sebagai bagian dari proses
pembelajaran. Kegiatan seperti wawancara dengan pelaku budaya dan pembuatan
dokumentasi sederhana menjadi media pembelajaran yang menarik. Selain
memperkaya keterampilan akademik, kegiatan ini juga menumbuhkan empati sosial.
Siswa menyadari bahwa kearifan lokal memiliki nilai penting yang harus dijaga
keberlanjutannya. Kesadaran ini membantu membangun karakter siswa yang peduli
terhadap budaya. Pendidikan menjadi sarana untuk menjaga kelestarian tradisi.
Pembelajaran berbasis kearifan
lokal juga dapat dikaitkan dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Nilai gotong royong, kreatif, mandiri, serta berkebinekaan global dapat
ditanamkan melalui aktivitas nyata. Siswa bekerja bersama untuk memecahkan
masalah dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi lingkungan. Dengan cara
ini, nilai karakter tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan dalam situasi
nyata. Guru sebagai fasilitator memberikan ruang bagi siswa untuk bereksplorasi
dan berekspresi. Sikap saling menghargai dan toleransi tumbuh melalui interaksi
secara langsung. Melalui proyek budaya, siswa dapat menunjukkan kemampuan
terbaiknya sesuai minat dan bakat. Hal ini membangun pengalaman bermakna yang
akan selalu diingat siswa.
Dengan memanfaatkan kearifan
lokal, pembelajaran Kurikulum Merdeka dapat berjalan lebih efektif dan relevan.
Siswa merasa lebih terhubung dengan materi karena berhubungan langsung dengan
kehidupan mereka. Nilai budaya yang ditanamkan sejak dini menjadi bekal
menghadapi era global tanpa kehilangan identitas. Pendekatan ini juga
memperkuat kerja sama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Pembelajaran berbasis budaya lokal menjadi jembatan untuk melestarikan tradisi
yang mulai tergerus zaman. Pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa pintar
secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat. Melalui strategi ini, generasi
muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang mencintai bangsanya. Kearifan lokal
terbukti menjadi fondasi penting dalam memperkuat pendidikan masa depan.
Penulis:
Mutia Syafa Y.
Foto:
Google