MENGUATKAN SELF-ESTEEM ANAK MELALUI PEMBELAJARAN YANG INKLUSIF DAN APRESIATIF
Self-esteem
atau harga diri merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan
psikologis anak usia sekolah dasar. Data UNICEF 2022 menunjukkan bahwa 49% anak
Indonesia mengalami rendah diri akibat perbandingan sosial, tekanan akademik,
dan kurangnya dukungan emosional di sekolah. Kondisi ini berpotensi membuat
anak kurang percaya diri saat berpendapat, takut salah, dan enggan mencoba hal
baru. Jika dibiarkan, rendahnya self-esteem dapat menghambat kemampuan
belajar dan hubungan sosial anak di kelas. Di era pendidikan modern, guru perlu
menyediakan lingkungan belajar yang lebih ramah, aman, dan menghargai
keberagaman. Karena itu, pembelajaran inklusif dan apresiatif menjadi kunci
penting dalam membangun kepercayaan diri anak.
Pembelajaran inklusif memberikan ruang
bagi semua anak baik yang berbeda kemampuan, latar belakang, maupun gaya
belajar untuk merasakan keberhasilan. Guru dapat menerapkan diferensiasi
pembelajaran agar setiap anak dapat belajar sesuai ritme dan potensinya. Ketika
anak merasa dipahami dan diterima, mereka lebih berani mengambil peran dalam
proses belajar. Pendekatan ini juga membantu mengurangi perbandingan yang tidak
sehat antar siswa. Anak tidak lagi fokus pada siapa yang paling pintar, tetapi
pada bagaimana mereka berkembang sesuai kemampuan diri. Karena itu,
pembelajaran inklusif sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya self-esteem
yang positif.
Selain inklusif, guru juga perlu
menghadirkan pembelajaran yang apresiatif untuk memperkuat harga diri anak.
Apresiasi bukan hanya pujian berlebihan, tetapi bentuk penguatan positif yang
tepat dan jujur terhadap usaha anak. Dengan memberikan feedback yang membangun,
anak merasa dihargai karena memiliki kontribusi dalam proses belajar. Pemberian
reward sederhana seperti “stiker bintang”, “pujian khusus”, atau “laporan
kemajuan personal” dapat membangkitkan semangat anak. Apresiasi juga mendorong
anak untuk menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan ide dan pendapat.
Ketika anak merasa aman secara emosional, mereka cenderung berperilaku lebih
positif dan aktif dalam kelas.
Guru dan calon guru SD memiliki peran
besar dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang mendukung penguatan
self-esteem. Aktivitas seperti kerja kelompok, diskusi aman, ice breaking, dan
proyek kreatif dapat membantu anak mengekspresikan diri. Selain itu, guru dapat
mengajarkan keterampilan sosial-emosional, seperti mengenal emosi, menghargai
perbedaan, dan berani mencoba hal baru. Lingkungan kelas yang hangat, penuh
dukungan, dan minim hukuman keras akan membuat anak belajar tanpa rasa takut.
Orang tua pun perlu dilibatkan agar penguatan self-esteem tidak hanya
terjadi di sekolah tetapi juga di rumah. Kolaborasi ini menciptakan lingkungan
yang konsisten untuk pertumbuhan kepercayaan diri anak.
Dengan demikian, membangun self-esteem
anak merupakan investasi jangka panjang bagi perkembangan akademik dan
emosional mereka. Pembelajaran inklusif memastikan semua anak merasa diterima,
sementara pembelajaran apresiatif membuat mereka merasa dihargai. Guru perlu
mengembangkan strategi yang sensitif terhadap kebutuhan emosional siswa dan
menciptakan lingkungan kelas yang aman dan menyenangkan. Rekomendasi ke depan
adalah memperkuat pelatihan guru tentang pendidikan sosial-emosional di sekolah
dasar. Sekolah juga perlu menyediakan program yang membantu anak mengeksplorasi
potensi diri melalui aktivitas kreatif dan kolaboratif. Dengan langkah-langkah
tersebut, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, resilien, dan
siap menghadapi tantangan masa depan.
Penulis: Etika Meilani